Senin, 27 September 2010

Sastra




Sebuah karya yang berkualitas tidak hanya mengedepankan unsur hiburan. Karya merupakan media untuk menyampaikan amanat. Setidaknya, dalam sebuah karya yang berkualitas, terdapat dua dimensi amanat, yakni menggugat dan menggugah. Hal inilah yang dilakukan oleh siswa SMA Athirah Makassar yang tergabung dalam Teater Baruga. Melalui teater sebagai sebuah karya seni, siswa SMA Athirah Makassar menggugat KPK yang dikenal sebagai lembaga anti rasuah. Sepeti apa gugatan yang disampaikan?


Baca selengkapnya....


CitraLelaki Bugis-Makassar dalam“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” 


Akhir tahun 2013, demam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (TKVDW) sangat terasa di semua lapisan masyarakat lintas generasi. Perbincangan tentang TKVDW tidak hanya dalam forum diskusi formal dan non formal, tetapi juga marak menjadi bahan diskusi di media sosial, seperti facebook dan twitter. Semua ini tidak terlepas dari rencana pemutaran perdana film TKVDW yang diangkat dari novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dengan judul yang sama. Film garapan Sunil Soraya tersebut diputar perdana pada tanggal 19 Desember 2013 mendatang.

Baca selengkapnya....


Tragedi Ruyati Dua Ribu Sebelas
(Puisi ini berhasil menjuarai Lomba Puisi Kemanusiaan dalam rangka Kemah Bakti dan Lomba VII PMR Wira se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di PKP KNPI Sudiang Makassar dan dibacakan oleh Nurfadilah, kontingen PMR SMAN 1 Sengkang)

Baca selengkapnya....


Nilai Sosial dalam Novel "Azab dan Sengsara" Karya Merari Siregar

Kehidupan yang dijalani oleh manusia di dunia ini adalah kehidupan bermasyarakat karena manusia merupakan makhluk sosial. Seseorang tidak akan dapat hidup tanpa orang lain.

Hubungan manusia dengan masyarakat harus dilihat sebagai hubungan seseorang dengan masyarakat secara terpadu bukan dengan manusia secara perseorangan. Hubungan itu merupakan realisasi dari dorongan naluri “bergaul” bagi manusia yang keberadaannya di dalam diri manusia sejak lahir manusia, tanpa dipelajari. Dalam hubungan itu, manusia akan melibatkan dirinya dalam masyarakat secara penuh tanpa mempersoalkan keuntungan dan kerugian yang diperolehnya dalam masyarakat itu.

Baca selengkapnya ....


Matrilinear dalam Novel "Layar Terkembang" Karya HAMKA

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan sebuah karya tersohor yang ditulis oleh HAMKA. Novel yang berisi kisah cinta antara seorang pemuda Zainuddin dengan seorang gadis bernama Hayati. Cinta mereka tidak mendapat restu keluarga Hayati. Pinangan Zainudin ditolak. Penolakan tersebut berawal dari persoalan adat istiadat yang telah turun-temurun dijalankan oleh masyarakat suku Minangkabau yang menjadi latar dalam cerita tersebut, yakni budaya matrilinear.

Baca selengkapnya...


Emansipasi Wanita dalam Novel "Layar Terkembang" Karya Sutan Takdir Alisyahbana
Emansipasi wanita sangat jelas tergambar dalam novel “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kutipan penggalan novel yang disajikan sebagai data pada hasil penelitian. Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan kegigihan sorang perempuan bernama Tuti dalam memperjuangkan hak-hak perermpuan.
Novel ini memperkenalkan masalah wanita Indonesia yang mulai merangkak pada pemikiran modern. Kaum wanita mulai bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai wanita, berwawasan luas, serta bercita-cita mandiri. Masalah lain yang dipersoalkan dalam novel ini, yaitu masalah kebudayaan barat dan timur, juga termasuk masalah agama. Novel ini menampilkan cinta kasih antara Yusuf, Maria, dan Tuti.

Baca selengkapnya...


Skripsi "Makna Simbol dalam Mantra Bugis Dialek Wajo (Telaah Semiotik Sastra Klasik Lisan Wajo)"

Abdullah. 2010. Makna Simbol dalam Mantra Bugis Dialek Wajo (Telaah Semiotik Sastra Klasik Lisan Bugis). Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar (dibimbing oleh Andi Sukri Syamsuri selaku Pembimbing I dan Munirah, selaku Pembimbing II

Baca selengkapnya...


Cerpen "Hidup di Persimpangan Jalan"
“Etta, pulangmi Nurdin!” Seru adikku ketika melihatku dari arah kejauhan. Kulihat kedua ettaku bergegas keluar dari dalam rumah hendak menyambutku. Ada keceriaan dan kegembiraan yang terpancar dari wajah mereka. Aku juga melihat titik-titik air yang keluar dari mata air air mata etta makkunraiku, tapi aku yakin itu adalah keharuan seorang ibu. Adikku membantuku mengangkat barang-barang yang aku bawa. Aku digiring masuk ke dalam rumah. Semua peristiwa tadi sore masih jelas di ingatanku.

Baca selengkapnya...


Cerita Rakyat "LA WELLE"

Dikisahkan konon kabarnya, di sebuah desa bernama Wajo-wajo hiduplah seorang anak yatim yang masih kecil. Anak itu bernama Lawelle. Ayahnya meninggal karena dibunuh oleh Lamannuke. Sejak saat itu, Lawelle tinggal berdua dengan ibunya. Warga sekitar pun sangat sayang pada Lawelle karena dia termasuk anak yang rajin dan tidak nakal.

Suatu ketika, Lawelle sedang bermain-main dan tiba-tiba menyaksikan sepasang burung memberi makan pada anak-anaknya. Lawelle pun takjub menyaksikan peristiwa yang menurut dia masih asing karena belum pernah dilihat sebelumnya. Hal inilah yang kemudian membuatnya bertanya pada ibunya tentang upaya kedua ekor burung yang memberi makan pada burung-burung yang lain.

Baca selengkapnya...

Cerita Rakyat "LA WELLE"

Disadur oleh: ABDULLAH

Dikisahkan konon kabarnya, di sebuah desa bernama Wajo-wajo hiduplah seorang anak yatim yang masih kecil. Anak itu bernama Lawelle. Ayahnya meninggal karena dibunuh oleh Lamannuke. Sejak saat itu, Lawelle tinggal berdua dengan ibunya. Warga sekitar pun sangat sayang pada Lawelle karena dia termasuk anak yang rajin dan tidak nakal.
Suatu ketika, Lawelle sedang bermain-main dan tiba-tiba menyaksikan sepasang burung memberi makan pada anak-anaknya. Lawelle pun takjub menyaksikan peristiwa yang menurut dia masih asing karena belum pernah dilihat sebelumnya. Hal inilah yang kemudian membuatnya bertanya pada ibunya tentang upaya kedua ekor burung yang memberi makan pada burung-burung yang lain.

Ibunya menjelaskan bahwa kedua burung itu tidak lain ayah dan ibu burung-burung yang lain. Lawelle merasa heran karena selama ini dia tidak pernah merasa mempunyai ayah. Dia pun menanyakan tentang ayahnya. Ibunya menceritakan peristiwa yang dialami oleh ayahnya sehingga akhirnya dibunuh oleh Lamannuke.

Dalam rasa penasaran itulah, Lawelle menanyakan peninggalan ayahnya. Ibunya memberitahukan bahwa ayah Lawelle meninggalkan sebuah benda pusaka yang rencananya akan dibuat menjadi badik namun belum selesai. Benda itu disimpannya baik-baik. Lawelle pun mengambil benda tersebut yang sudah menyerupai sebuah badik namun belum tajam karena belum selesai betul dibuat oleh mendiang ayahnya.

Agar badiknya itu betul-betul jadi, Lawelle menanam jeruk pada lahan perkebunan yang sangat luas. Jeruk itu akan dijadikan sebagai bahan untuk mempertajam badiknya. Alhasil, jeruk itu tumbuh besar dan berbuah banyak. Lawelle menghabiskan semua hasil panen jeruk itu hanya untuk mempertajam badiknya hingga badik itu terlalu tipis seperti daun padi sehingga orang bugis menamakannya tappi maddaung ase, artinya badik yang tipis seperti daun padi. Berita tentang adanya tappi maddaung ase yang dimiliki Lawelle tersebar ke seluruh pelosok Wajo hingga tidak ada orang yang berani melawannya karena bekas luka yang ditorehkan akibat sayatan badik Lawelle tidak dapat diobati dengan penawar luka apapun sehingga orang bugis menamakannya tennarapi pattawe.

Pada suatu hari, Lawelle yang sudah beranjak remaja memohon izin kepada ibunya untuk pergi mencari Lamannuke hendak membalas dendam atas kematian ayahnya. Ibunya pun mengizinkan karena sudah mengandalkan keberanian anaknya. Setiap perkampungan yang dilaluinya, Lawelle selalu bertanya tentang keberadaan Lamannuke. Semua orang yang ditanya pun terkejut melihat seorang remaja yang mencari Lamannuke hendak mengajaknya bertarung, sementara Lamannuke sangat terkenal kehebatannya karena dia memiliki ilmu pattawe (penawar luka). Namun, setelah tahu bahwa remaja yang mencari Lamannuke itu tak lain Lawelle yang memiliki tappi maddaung ase tennarapi pattawe, mereka pun maklum atas keberanian anak itu.

Setelah bertanya dan terus bertanya, akhirnya Lawelle berhasil bertemu dengan Lamannuke. Lawelle menantang Lamannuke berkelahi karena hendak membalas dendam atas kematian ayahnya. Celakanya, Lamannuke terlalu licik. Dia mencari akal agar tidak jadi bertarung dengan Lawelle. Rupanya Lamannuke pun telah mendengar tentang kehebatan Lawelle yang memiliki tappi maddaung ase tennarapi pattawe. Lamannuke memang punya ilmu penawar luka, tapi apalah artinya jika berhadapan dengan Lamannuke yang memiliki badik yang bekas sayatannya tak dapat disembuhkan dengan penawar apapun.

Alhasil, Lamannuke menemukan cara agar dapat menyingkirkan Lawelle. Dia menyangkal kalau dirinya yang telah membunuh ayah Lawelle. Lamannuke justru memfitnah Wa Becce yang dikenal dengan sebutan Bolong Mangngongngona Tana Kute. Orang tersebut adalah seorang ratu yang memerintah di sebuah negeri yang sangat kaya. Ratu tersebut terkenal sakti dan pemberani. Apabila ada kapal yang merapat di pelabuhan negeri tersebut, Wa Becce selalu berkokok seperti ayam dan apabila ada yang menjawabnya, maka mereka akan bertarung. Taruhannya pun tidak tanggung-tanggung. Apabila Wa Becce kalah, maka ia akan menyerahkan tampu kekuasaan di negerinya. Tetapi apabila lawannya kalah, maka ia akan mengambil seluruh isi kapal. Tampaknya taruhan itu memang menguntungkan bagi pemilik kapal karena tidak seimbang nilainya, tetapi tetap saja tidak ada yang berani melawan Wa Becce.

Atas petunjuk Lamannuke, Lawelle pun berangkat mengarungi lautan. Agar pelayarannya itu berjalan lancar, dia bekerja sebagai awak pada salah satu kapal tujuan Tana Kute. Tentu saja tidak ada orang yang tahu maksud Lawelle, karena kalau mereka tahu, mereka tidak akan mengikutkan Lawelle. Semua orang, terutama pemilik kapal, sangat takut pada Wa Becce. Bahkan, tidak ada kapal yang mau membawa ayam karena takut ayam tersebut akan menyahut jika Wa Becce berkokok seperti ayam.

Setelah berlayar cukup lama, akhirnya kapal yang ditumpangi Lawelle pun tiba di Tana Kute. Lawelle tidak sabar lagi menunggu adanya suara kokok ayam dari dermaga. Begitu mendengar suara kokok ayam, tanpa ragu-ragu, Lawelle pun menyahut. Tentu saja tindakan Lawelle itu membuat seisi kapal jadi terkejut dan sangat ketakutan. Pertarungan hebat pun terjadi antara Lawelle dan Wa Becce. Mereka beradu kekuatan dan kesaktian, hingga akhirnya badik Lawelle mengenai kulit Wa Becce. Melihat hal itu, Wa Becce tidak merasa khawatir sedikit pun karena dia memiliki penawar luka.
Namun malang nasib Wa Becce. Rupanya dia tidak tahu kalau bekas sayatan badik Lawelle tidak dapat diobati dengan penawar apapun. Wa Becce gugur dalam pertarungan itu. Wa Becce yang selama ini selalu mengambil milik orang lain, akhirnya harus merelakan kerajaannya untuk dia serahkan kepada Lawelle. Tampu kekuasaan pun beralih pada Lawelle.

Konon, menurut si empunya cerita dan keyakinan masyarakat Wajo, Tana Kute yang dimaksud adalah Kerajaan Kutai yang berada di Kalimantan Timur. Lawelle tinggal memerintah di kerajaan tersebut. Berita tentang kemenangan Lawelle melawan Wa Becce pun tersebar hingga ke Wajo. Banyak orang-orang Wajo yang menyusul dan menetap di negeri tersebut dan beranak-cucu hingga sekarang.

Menanti Aksi Tokoh Perdamaian Dunia

Abdullah

Pemilu presiden telah berlalu dan presiden terpilih pun sudah menjabat selama hampir satu tahun. Tentu saja presiden terpilih adalah pilihan rakyat secara murni karena dipilih secara langsung, bukan melalui perwakilan di parlemen. Namun sepertinya rakyat tidak puas dengan pilihannya. Ini dibuktikan dengan maraknya aksi unjuk rasa, bahkan tidak jarang menuntut presiden mundur dari jabatannya.

Sejak dilantinya presiden dan wakilnya, sudah banyak digelar aksi unjuk rasa, mulai dari kasus Bank Century, kenaikan tarif dasar listrik, sampai hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Kasus terakhir inilah yang menyebabkan popularitas presiden turun menurut beberapa lembaga survey yang telah merilis temuannya akhir-akhir ini. Berbagai komentar rakyat bermunculan tentang presiden yang dianggap tidak tegas dalam menyikapi persoalan dengan Malaysia. Bahkan tidak sedikit rakyat yang menuding presiden penakut karena tidak berani menghadapi negara-negara lain.

Mendengar beberapa komentar dari rakyat, tentunya kita heran dan tercengang karena ini berbeda dengan sosok presiden yang kita kenal sebelumnya. Sang presiden sebagai ikon negara telah tercatat sebagai salah satu orang yang berpengaruh di dunia menurut salah satu majalah internasional. Lebih mengherankan lagi rakyat yang menuntut presiden mundur karena dianggap penakut, padahal kebanyakan mereka memilih presiden dulu karena dianggap berwibawa. Jika presiden kita berwibawa, tentunya negara lain tidak akan merampas kedaulatan negara kita.

Tak ada yang patut dipersalahkan dalam kasus ini terkait sikap presiden yang memilih berdiplomasi daripada menempuh jalur perang. Sikap presiden tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Masih banyak saudara kita bekerja di sana sebagai TKI. Jika jalur perang dipilih, tentunya banyak korban dari pihak kita, termasuk dalam hal pekerjaan. Rakyat pun tidak mau kalah karena selalu bercermin pada sikap presiden yang menyerukan mengganyak Malaysia, seperti yang sering ditayangkan di layar kaca.

Sebenarnya, pangkal persoalan yang kita hadapi sangat jelas. Negara kita butuh tokoh yang mampu meredam dan mendamaikan kedua belah pihak. Namun sampai detik ini, baik rakyat maupun pemerintah, tampaknya belum ada yang menemukan sosok tokoh perdamaian. Padahal, negara lain pernah menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa bidang perdamaian pada salah seorang mantan wakil presiden kita. Tentu saja gelar itu bukan sekadar pemberian, melainkan penghargaan pada orang yang dianggap memiliki kapasitas dalam hal perdamaian dunia yang cukup disegani.

Secara historis, mantan wakil presiden kita memiliki hubungan kekerabatan dengan Perdana Menteri Malaysia yang menjadi ikon negara tersebut. Tak bisa dipungkiri bahwa keduanya adalah perantau yang mengadu nasib di negeri orang. Keduanya diikat dengan tali persaudaraan suku Bugis-Makassar. Berikut kutipan penggalan puisi yang ditulis oleh Udhin Palisuri, seorang sastrawan dan budayawan Sulawesi Selatan.

Yang amat terhormat
Datuk Najib
Timbalan jadi perdana menteri
Leluhur dari Gowa
Istri orang Padang

Yusuf Kalla
Wakil presiden
Leluhur dari Bugis
Istri orang Padang

(Dibacakan pada Pembukaan Festival Budaya Serumpun Melayu tahun 2009 di Makassar)


Pertalian ini tentunya dapat dijadikan sebagai suatu referensi untuk mempertemukan keduanya dalam satu meja membicarakan persoalan kedua negara yang akhir-akhir ini bersitegang. Dalam raga keduanya, tentu masih mengalir darah Bugis-Makassar dengan keteguhan hatinya memegang prinsip “Sebenci-bencinya pada saudara sekampung, jika bertemu di perantauan, akan berdamai jua.” Kini kita tinggal menanti aksi tokoh perdamaian dunia yang telah mewakafkan hidupnya untuk kemanusiaan.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Kompleksitas Pembelajaran Seni Teater Menjawab Problematika Pembelajaran Seni Budaya


A. Hakikat Pembelajaran Seni Budaya

Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya terdapat dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan. Dalam mata pelajaran Seni Budaya, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.

Mata pelajaran Seni Budaya diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi. Mata pelajran Seni Budaya memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional.

Bidang seni rupa, musik, tari, dan teater memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam mata pelajaran Seni Budaya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.

B. Problematika Pembelajaran Seni Budaya

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang kini tengah diterapkan di sekolah sebagai satuan pendidikan telah menyita banyak waktu para guru untuk menyusun program pembelajaran. Setiap awal tahun pelajaran, para guru merencanakan program pembelajaran untuk satu tahun ke depan dengan memperhatikan masalah-masalah yang muncul pada proses pembelajaran tahun sebelumnya. Proses inilah yang kadang memancing guru melakukan penelitian tindakan kelas dengan harapan dapat memperbaiki kualitas pembelajaran yang diterapkannya. Namun, tidak sedikit juga guru yang kurang memperhatikan fenomena tersebut.

Khusus mata pelajaran Seni Budaya, salah satu problematika yang dihadapi guru mata pelajaran adalah kompleksitas materi yang diamanatkan dalam Permen Diknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Permen ini memuat materi berupa standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus diurai oleh guru mata pelajaran menjadi indikator-indikator pencapaian didasarkan pada potensi sekolah sebagai satuan pendidikan. Pada indikator itulah guru dan siswa bergelut untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai standar isi yang ditetapkan pemerintah.

Kompleksitas mata pelajaran Seni Budaya meliputi seni teater, seni musik, seni tari, dan seni teater. Keempat bidang seni inilah yang akan diajarkan kepada siswa dengan alokasi waktu yang sangat singkat untuk dapat mencapai ketuntasan minimal hasil belajar. Dalam alokasi waktu per semester, guru hanya mampu menuntaskan satu substansi masalah. Itu pun hanya satu bidang seni yang dapat diajarkan jika mengacu pada kurikulum sesuai dengan standar isi yang ditetapkan pemerintah.
Sebenarnya guru tidak perlu merasa repot dan merepotkan diri dengan persoalan tersebut karena guru tidak dituntut untuk mengajarkan semua bidang seni dalam waktu yang bersamaan (semester yang sama). Pun guru hanya memilih salah satu bidang seni sesuai dengan latar belakang pendidikannya untuk diajarkan kepada siswa. Namun, kondisi siswa yang heterogen dengan potensi bawaan lahir yang berbeda-beda tidaklah sesuai dengan harapan guru, sehingga harus berupaya memenuhi keinginan siswa.

Problematika inilah yang kerap membayang-bayangi para guru mata pelajaran Seni Budaya. Bahkan tidak jarang orang tua siswa melancarkan protes jika anaknya dinyatakan tidak melulusi mata pelajaran Seni Budaya, karena anaknya pernah menjuarai lomba lukis atau lomba lagu solo. Betapa tidak, gurunya mengajarkan Seni Tari, padahal siswa yang bersangkutan tidak mampu menari seperti yang diinginkan gurunya. Ada pula siswa yang pernah menjuarai lomba tari atau menjadi sutradara terbaik dalam sebuah festival teater, tapi dinyatakan tidak lulus pada mata pelajaran Seni Budaya karena gurunya mengajarkan Seni Rupa. Tentu saja siswa tersebut tidak mampu memenuhi standar ketuntasan minimal yang telah ditetapkan.

C. Kompeksitas Unsur Pertunjukan Teater

Teater merupakan suatu bentuk seni pertunjukan. Sebagai seni pertunjukan, teater termasuk bidang seni yang sangat kompleks karena memadu bidang seni yang lain maupun keterampilan hidup (life skill) untuk menunjang keberhasilan dalam pertunjukan. Hal itulah yang menjadi unsur-unsur dalam membangun sebuah pertunjukan teater.
Pertunjukan teater akan terasa hambar jika tidak didukung dengan unsur-unsur pertunjukan, seperti seni musik sebagai ilustrasi, seni rupa sebagai penataan panggung/properti, seni tari untuk koreografi pada adegan-adegan tertentu, tata rias, busana, maupun cahaya. Semua unsur-unsur tersebut sangat membantu dalam membangun karakter pelaku dan suasana cerita dalam pertunjukan. Kehadiran unsur-unsur itu pun akan menambah nilai estetis sebuah karya seni teater. Berikut akan diuraikan beberapa unsur dalam pertunjukan teater.

1. Ide Cerita/Skenario

Untuk dapat mementaskan teater, diperlukan skenario atau ide cerita yang menjadi materi pertunjukan. Dalam alur cerita tersebut, disuguhkan konflik, baik konflik fisik maupun konflik batin yang dialami oleh pelaku dalam cerita. Seorang penulis skenario atau orang yang melahirkan ide cerita haruslah peka terhadap fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat beragama, berbangsa, dan bernegara.
Dalam membuat skenario, dibutuhkan keterampilan dalam bidang seni sastra. Seperti kita ketahui bahwa bahan baku sebuah pertunjukan teater adalah naskah drama yang merupakan bagian dari seni sastra. Inilah raga atau fisik teater yang harus mendapat roh agar dapat kelihatan hidup di atas panggung.

2. Sutradara

Sutradara merupakan pemimpin dalam sebuah pertunjukan teater. Sutradara akan menjadi top leader pada semua stage management. Untuk itu, seorang sutradara harus memiliki jiwa kepemimpinan agar semua stage management dapat menerima ide dan keinginan sutradara.

Baik atau buruknya suatu pertunjukan teater sangat bergantung pada kompetensi sutradara. Sutradaralah yang akan meniupkan roh pada naskah yang berbentuk seni sastra menjadi sebuah pertunjukan teater yang menarik. Ide cerita atau skenario terlebih dahulu harus dapat dipahami oleh sutradara, kemudian ide cerita/skenario tersebut diramu sesuai dengan keinginannya.

Dalam menjalankan tugasnya, sutradara bisa dibantu oleh seorang asisten dan pencatat adegan. Sutradara dapat pula didampingi oleh seorang koreografer jika dibutuhkan. Tugas seorang koreografer adalah menyajikan koreo pada adegan-adegan tertentu yang sulit digambarkan dengan adu aksi para pemain di panggung, seperti perkelahian, pembunuhan, atau pemerkosaan. Koreografi yang disajikan harus menarik dan dapat diterima atau dipahami oleh penonton. Di sinilah dibutuhkan kemampuan dalam bidang seni tari.

3.Pemain

Dalam pertunjukan teater, pemain memerankan lakon berdasarkan tokoh cerita dengan karakter tertentu. Setiap tokoh cerita mempunyai peranan dan watak yang berbeda. Seorang pemain dituntut untuk mampu memerankan tokoh cerita. Keahlian pemain dapat menghadirkan sosok tokoh yang diperankan seperti nyata, baik tingkah laku, dialog, maupun jiwanya. Selain bermain secara individu, pemain juga diharuskan dapat bermain secara kelompok. Artinya, di atas panggung seorang pemain tidak bermain sendiri, ada tokoh cerita lain yang harus bekerja sama dalam menghadirkan permainan yang baik. Kekompakan antarpemain sangat menentukan keberhasilan sebuah pertunjukan.

4. Tata Panggung/Properti

Dalam pertunjukan teater, penggambaran latar tempat harus jelas. Misalnya, adegan menggambarkan suasana di terminal, maka tidak hanya pemain yang mengantar penonton mengetahui atau menafsirkan latar tempat dalam cerita, tetapi yang sangat mendukung adalah properti atau penataan panggung. Tanpa dimunculkan dalam dialog pemain, penonton pun dapat mengetahui latarnya. Di sinilah kemampuan stage management dalam bidang seni rupa sangat dibutuhkan

5. Tata Musik

Musik berfungsi untuk membangun suasana tertentu, seperti tuntutan peristiwa dalam pertunjukan teater. Musik yang kurang baik dan kurang tepat dapat merusak suasana pertunjukan. Musik dalam pertunjukan teater bukan hanya bunyi yang dihasilkan oleh alat musik, tetapi dapat juga berupa bunyi-bunyian yang dikeluarkan oleh alat ucap manusia atau rekaman bunyi yang dapat menggambarkan suatu peristiwa.
Untuk menggambarkan suasana pagi, penata musik dapat menggunakan rekaman suara kicau burung. Untuk menggambarkan suasana pantai, penata musik dapat menggunakan rekaman suara ombak dan burung camar. Dalam pada itu, musik berfungsi menggambarkan latar waktu dan tempat dalam cerita.

6. Tata Rias/Busana

Tata rias adalah riasan wajah pemain maupun anggota badan yang lain dengan tujuan untuk membantu pemain menghadirkan karakter tokoh cerita. Seorang pemain yang masih relatif muda, dapat tampil layaknya orang tua karena dukungan tata rias. Tentu saja tata rias ini erat kaitannya dengan tata busana. Busana pentas merupakan pakaian penunjang karakter pemain dalam menghadirkan sosok tokoh cerita. Selain itu, sinergi antara tata rias dan tata busana juga dapat menggambarkan sebuah kurun waktu peristiwa dan artistik pertunjukan. Di sinilah dibutuhkan keterampilan stage management dalam bidang fashion (make up dan costume design) yang sesuai dengan latar cerita.

7. Tata Cahaya

Selain tata musik dan tata rias/busana, dibutuhkan juga tata cahaya untuk menggambarkan latar waktu dan suasana. Penata cahaya dapat menggambarkan waktu senja dengan menggunakan perpaduan cahaya berwarna merah dan kuning. Penata cahaya pun dapat menggambarkan suasana mencekam dengan memainkan beberapa warna cahaya secara bergantian. Untuk menghadirkan penggambaran latar waktu dan suasana yang diinginkan sesuai dengan tuntutan cerita, sebaiknya tidak ada cahaya yang terlihat dalam ruang
pertunjukan selain cahaya lampu yang mengarah ke arena pertunjukan (panggung).
Penataan cahaya tidak lepas dari kemampuan seni rupa dan keterampilan dalam bidang elektro yang harus dimiliki stage management. Penata cahaya harus mengetahui konsep penggabungan warna untuk menciptakan warna-warna tertentu. Hal ini akan sangat membatu dalam mewujudkan nuansa dan membangun suasana berdasarkan alur cerita.

D. Teater Mensinergikan Berbagai Bidang Seni

Dari pemaparan tentang kompleksitas unsur pertunjukan teater, dapat disimpulkan bahwa seni teater merupakan induk dari semua bidang seni. Sebagai induk, teater dapat mensinergikan semua bidang seni, seperti seni musik, seni tari, dan seni rupa. Selain itu, unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah seni sastra, kepemimpinan, bahkan kemampuan dalam bidang elektro. Kompleksitas seni teater inilah yang diharapkan dapat mensinergikan berbagai bidang keilmuan untuk mengasah dan mengembangkan kreativitas siswa, baik dalam bidang seni maupun dalam bidang yang lain, seperti kesusastraan dan kepemimpinan, dan elektro.

Khusus dalam pembelajaran Seni Budaya, guru dapat memilih seni teater sebagai jawaban atas problematika pembelajaran Seni Budaya yang dialami selama ini. Guru tidak perlu lagi menekankan pada siswa untuk dapat menguasai bidang keilmuan yang diinginkan guru, melainkan memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih peranan yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.

Setiap manusia lahir dengan potensi bawaan yang dimiliki. Inilah yang harus dijajaki dalam diri siswa. Guru hanya tampil sebagai fasilitator untuk menemukan potensi tersebut. Siswa yang memiliki keterampilan menulis diberi kesempatan menulis skenario. Siswa yang memiliki kemampuan memimpin dan mengarahkan diberi kesempatan menjadi sutradara. Siswa yang memiliki kemampuan berakting diberi kesempatan menjadi pemain. Siswa yang memiliki kemampuan menari diberi peran dalam suatu adegan tertentu yang memerlukan koreo. Siswa yang memiliki kemampuan seni rupa diberi tugas sebagai penata panggung/properti. Siswa yang memiliki kemampuan seni musik diberi tugas sebagai penata musik. Siswa yang memiliki keterampilan dalam bidang fashion diberi tugas sebagai penata rias/busana. Siswa yang memiliki kemampuan dalam bidang seni rupa dan elektro diberi tugas sebagai penata cahaya. Dengan demikian, seluruh kepentingan, baik dari guru maupun siswa, dapat terakomodasi dengan baik.

Selasa, 29 Desember 2009

Ambalan Hasanuddin-Kartini Tingkatkan Kuantitas dan Kualitas

Ambalan Hasanuddin-Kartini yang berpangkalan di SMA Negeri 1 Sengkang dengan nomor Gudep 14.083-14.086 kembali mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pembinaan dan pengembangan organisasi baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk Persami pada tanggal 26 s.d. 27 Desember 2009 ini merangkaikan beberapa agenda kegiatan, di antaranya Penerimaan Tamu Ambalan, Upacara Unggun Api, malam kanyita, Sidang Dewan Kehormatan Kenaikan Tingkat dari Penegak Bantara ke Penegak Laksana, dan kegiatan yang tidak biasanya dilaksanakan selama ini yakni Pertemuan Alumni Ambalan Has-Kar.

Dalam upacara Penerimaan Tamu Ambalan, Wawan Septiawan selaku Ketua Sangga Kerja memperhadapkan 84 calon peserta kepada Ka Mabigus yang diwakili oleh Drs. H. Abdul Gaffar selaku Pembina Upacara. Ke-84 calon peserta tersebut terdiri dari 29 putra dan 55 putri. Dalam prosesi upacara tersebut, Pembina Upacara menanyakan kepada Pengurus Dewan Ambalan tentang kesediaan para pengurus menerima dan membimbing calon peserta yang diiyakan oleh semua pengurus.

Dalam amanatnya, Pembina Upacara berpesan kepada seluruh pengurus agar dapat membimbing dan mengarahkan calon peserta berdasarkan sistem dan tujuan pendidikan kepramukaan. Selain itu, Pembina Upacara juga berpesan kepada peserta agar dapat mengikuti kegiatan pelatihan dengan tekun dan disiplin. Pembina Upacara selanjutnya menutup amanatnya dengan pernyataan menerima tamu ambalan yang selanjutnya diserahkan kembali kepada Dewan Ambalan untuk mendapatkan pembinaan.

Setelah prosesi upacara dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan pada malam hari dengan kegiatan Upacara Unggun Api dilanjutkan dengan malam kanyita. Keakraban terlihat kala setiap peseta yang mewakili regu masing-masing menampilkan kreativitas mereka. Tidak hanya itu, pemandu acara pun tidak segan-segan mengundang panitia, pembina, bahkan para alumni yang hadir untuk tampil bernyanyi atau membacakan puisi.

Selepas acara malam kanyita, pembina menggelar Sidang Dewan Kehormatan (SDK) Kenaikan Tingkat dari Penegak Bantara ke Penegak Laksana yang dipimpin oleh Kak Abdullah (Pembina Satuan Penegak Ambalan Hasanuddin). Sidang yang dilaksanakan berjalan alot diselingi humor dan ketegangan yang tampak di wajah peserta sidang. SDK yang digelar ini memperhadapkan 9 (sembilan) calon Penegak Laksana, di antaranya Muhammad Jumardan, Marsul Musyawwir Mardis, Muhammad Ikram, Syafrizal, Nurdin Afandi, Dian Eka Sari, Wahyunaningsih, Irma Suriyani, dan Kasmiriawanti.

Proses persidangan diawali dengan arahan yang disampaikan oleh Kak Zainuddin (Ketua Lemdikacab) yang mewakili Ketua Kwarcab Wajo. Sidang juga dihadiri oleh beberapa unsur Kwarcab lainnya, di antaranya Kak Yusri, Kak Gusti, dan Kak Nawawi. Selain itu, hadir pula unsur-unsur DKC, di antaranya Kak Yunus dan Kak Musfain. Di antara undangan, tampak pula unsur-unsur Mabigus, guru Pendais, wali kelas, dan orang tua peserta didik calon Penegak Laksana.

Persidangan yang sempat diskorsing sebanyak 3 (tiga) kali ini ditutup tepat pukul 04.00 dini hari dengan keputusan ke-9 peserta dinyatakan lulus dan berhak menyandang tanda jabatan Penegak Laksana. Para peserta dilantik usai salat Subuh oleh Kak Yusri mewakili Ka Mabigus. Dalam amanat pelantikan, pembina berpesan kepada para peserta agar dapat menjadi contoh teladan bagi Pramuka yang lain, khususnya dalam lingkup Ambalan Hasanuddin-Kartini.

Menyambut pagi yang indah nan cerah, segenap peserta Persami, baik pengurus, tamu ambalan, maupun pembina menyegarkan otot-otot dengan mengikuti Senam Pramuka. Walau sedikit lucu karena tidak menghafal gerakan-gerakan senam, namun semua peserta merasa senang dan dapat menikmati setiap gerakan hingga akhir senam.

Setelah mengadakan senam, peserta Persami secara resmi dilepas oleh Kak Abdullah. Dalam apel pelepasan, pembina mengingatkan kepada segenap peserta, khususnya para tamu ambalan agar tetap bersemangat mengikuti setiap kegiatan kepramukaan. Pembina menyatakan bahwa kegiatan penerimaan tamu ambalan yang telah dilaksanakan merupakan langkah awal untuk dapat bergabung dengan Ambalan Hasanuddin-Kartini. Hal ini masih memerlukan tindak lanjut dan akan terus dipantau pada proses pelatihan yang akan dimulai pada bulan Januari 2010. Dalam apel itu pun, pembina memberikan motivasi kepada para pengurus ambalan agar dapat meraih tanda jabatan Penegak Laksana. Demikian pula kepada ke-9 Penegak Laksana yang baru dilantik, pembina juga memberikan motivasi agar dapat meraih Penegak Garuda sebelum menyelesaikan pendidikan di SMA.

Selasa, 15 Desember 2009

Nilai-nilai Pendidikan Hilang di Lembaga Pendidikan

Abdullah

Lahirnya Permen Diknas No. 48 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan merupakan angin segar bagi pembinaan kesiswaan di sekolah. Pihak pemerintah pusat (Departemen Pendidikan Nasional) telah jelas mengarahkan proses pembinaan kepada siswa di sekolah. Menilik substansi permen tersebut, tampak pembinaan kesiswaan diarahkan menuju peningkatan kreativitas siswa. Pembina diharapkan betul-betul mengarahkan siswa mencapai keterampilan (life skill) dari 10 (sepuluh) bentuk pembinaan yang diprogramkan.

Aktualisasi pembinaan kesiswaan di sekolah rupanya jauh dari harapan pemerintah pusat. Hakikat pembinaan kesiswaan yakni melahirkan generasi yang memiliki keterampilan terabaikan. Bukan karena Pembina Kesiswaan tidak siap menjalankan substansi permen, melainkan karena intervensi yang datang dari unsur birokrat daerah. Pihak birokrat daerah—Dinas Pendidikan—tidak menjalankan peranannya sebagaimana mestinya.

Seharusnya pihak birokrat daerah memberikan dukungan kepada pembina di sekolah dalam menjalankan tugasnya. Tetapi kenyataan di lapangan sangat berbeda. Pihak birokrat daerah justru terjun ke sekolah memasung kreativitas pembina dan siswa. “Pihak birokrat daerah semestinya menempatkan diri sebagai orang tua yang mengunjungi dapur anak-anaknya dan melengkapi kebutuhan yang belum terpenuhi, bukannya bertandang untuk meminta garam dari anaknya.” Pernyataan inilah yang sering dilontarkan pembina di sekolah menanggapi obyek yang dilancarkan birokrat daerah ke sekolah. (Maaf, saya tidak menyebutnya proyek karena proyek lebih memiliki nilai manfaat dibanding obyek).

Kalau dulu, birokrat sering bertandang ke sekolah menawarkan proyek dari luar untuk pengembangan sekolah, baik dalam bentuk operasional maupun infrastruktur, walau dananya biasa disunat, hal ini bisa dimaklumi karena setidaknya ini telah meringankan beban pembina dalam hal penganggaran. Namanya juga usaha. Sedangkan birokrat sekarang, justru terjun ke sekolah menawarkan barang untuk dibeli oleh pihak sekolah. Justru membebani penganggaran kegiatan kesiswaan. Barang (tenda Pramuka) yang ditawarkan pun tidak layak pakai dari segi kualitas dan terang saja harganya tentu di atas harga semestinya. Padahal, pembina telah mengarahkan siswa merancang dan membuat sendiri tenda dari bahan yang berkualitas. Tentunya ini sejalan dengan tujuan pembinaan seperti yang telah diungkap sebelumnya, yakni melahirkan generasi yang memiliki keterampilan.

Ironisnya, hal ini dilakukan oleh seorang pejabat eselon III dari instansi terkait. Sepertinya pemimpin sudah tidak punya lagi lahan berladang hingga tanpa malu mengeruk dan mengais dana dari sekolah. Tanpa malu seorang pejabat eselon III bertandang ke sekolah membawa paket tenda untuk dijual. Mau tak mau pihak sekolah harus mau membeli (he he he… teringat sebuah lagu dangdut tempo dulu). Pihak sekolah tidak bisa mengelak karena barang sudah sengaja dipesan dari jauh. Pihak pengelola takut merugi. Sebagai bawahan, pihak sekolah pun harus menurut walau sempat berdebat tentang kualitas barang yang ditawarkan karena tidak pernah melihat contoh sebelumnya. Apalagi ketika sang pejabat melontarkan kalimat, “Kalau 01 sudah ACC, bayar saja!” Inilah imbas sistem ketatanegaraan kita yang berawal dari sistem perekrutan abdi negara, yakni Asal Bapak Senang. (baca: Seleksi CPNS Memupuk Loyalitas Abdi Negara)

Tiba-tiba saya teringat Pak Panunjuk (guru mata pelajaran Pendidikan Agama di SD) ketika menjelaskan syarat-syarat jual beli. Salah satu syaratnya adalah barang harus ada. Saat itu saya bertanya, “Pak, bagaimana kalau barangnya ada di tempat lain?” Dengan sikap tenang Pak Panunjuk menjawab, “Kalau barangnya di tempat lain dan tidak ada contoh, tentu kita tidak bisa tahu mutu barang itu.” Itulah yang tertanam dalam benak saya sampai sekarang tentang jual beli dan hari ini saya melihat hal itu sudah dijalankan. Nilai-nilai pendidikan yang saya terima sejak SD, hari ini di lingkungan lembaga pendidikan.

Senin, 14 Desember 2009

Hidup adalah Pengabdian


Abdullah Fastabiqul Khairat (Afrat) lahir di Samarinda, pada hari Sabtu, tanggal 24 November 1984 dari pasangan Aminuddin dan Maryam. Anak sulung dari 4 bersaudara (Abdullah, Jumadi, M. Yusuf, Nurhalisa) ini memiliki nama lahir Mardiansyah. Perubahan nama terjadi ketika mendaftar di bangku SD. Perubahan nama itu melahirkan seabrek nama panggilan bergantung sikontolpanjang (situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan).

Di lingkungan keluarga tempat lahir (Samarinda) lebih dikenal dengan sapaan Mardi (Maryam-Aminuddin) dan Tattung (hari lahir: Sabtu). Tahun 1990, ketika berusia 5 tahun, hijrah ke Lagosi dan mulai mengenyam pendidikan di SDN 343 Geddongnge (sekarang SDN 339 Lagosi). Sejak saat itu nama sapaan berubah menjadi Ancha di lingkungan keluarga dan Dul di lingkungan sekolah.

Tahun 1996, setelah lulus SD, lanjut ke SLTPN 2 Pammana. Setelah lulus SMP pada tahun 1999, lanjut ke SMUN 1 Sengkang. Selama mengenyam pendidikan di bangku SMA, selain aktif di organisasi internal, juga aktif di organisasi luar sekolah, seperti Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Cabang Sengkang, Remaja Masjid Al-Manar Tempe, Sanggar Seni Lasangkuru, dsb. Beberapa prestasi pernah diraih, di antaranya Juara III Narasi Monolog Kisah Teladan Rasul tahun 2000, Juara I Lomba Baca Puisi Religius dalam rangka memeriahkan HUT ke-29 Radio Suara Asadiyah tahun 2001, Juara I Visualisasi Puisi pada Porseni Remaja Masjid se-Kab. Wajo tahun 2002. Berbekal pengalaman tersebut, didaulat mengisi acara Pembacaan Puisi Religi setiap Kamis Malam dan Sabtu Malam di Mentari FM binaan PD IRM Wajo.

Setelah lulus SMA tahun 2002, lanjut ke Yayasan Pendidikan dan Keterampilan Wajo Computer Centre (WCC) Program Profesi “Aplikasi Komputer dan Sekretaris Eksekutif”. Di samping itu, aktivitas di luar kampus tetap jalan sejak bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Persiapan Sengkang dan Sanggar Seni Teater Kosong ’82 Sengkang. Perhatian lebih banyak tercurah ke kegiatan kesenian, di antaranya menjadi Tim Pelatih Tari Kolosal Pembukaan Porseni PGRI Kab. Wajo tahun 2003, Tim Pelatih Tari Kolosal Peringatan Hari Jadi Wajo tahun 2003, dan Tim Pelatih Seni Tradisional Bugis delegasi Kab. Wajo ke Samarinda tahun 2003. Aktivitas di bidang seni yang padat membuat kegiatan di kampus terbengkalai dan akhirnya tidak mampu merampungkan proses pendidikan di WCC dan hanya mendapat sertifikat Operator Executif dan Desain Grafis.

Awal tahun akademik 2003/2004, lanjut di STIA Puangrimaggalatung Sengkang jurusan Administrasi Negara. Hanya mampu bertahan 1 semester karena lagi-lagi disibukkan dengan kegiatan kesenian setelah mendapatkan kesempatan bermain teater pada Pengukuhan Pengurus Kerukunan Masyarakat Wajo (KEMAWA) Samarinda akhir tahun 2003. Sejak itu, bergabung di Sanggar Seni Simentempola.

Tahun 2004, berkat kiprah di bidang seni, mendapat tawaran dari almamater (SMAN 1 Sengkang) menjadi Pembina Seni dan diangkat menjadi staf Tata Usaha. Sejak saat itu pula, aktivitas seni lebih difokuskan pada pembinaan seni di sekolah. Berbekal sertifikat Operator Eksekutif dan Desain Grafis, dialihkan dari staf Tata Usaha menjadi guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Tahun 2005, kembali mencoba mengadu nasib di bangku kuliah dengan melanjutkan pendidikan di STKIP Puangrimaggalatung Sengkang jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kegiatan semakin padat ketika jiwa organisasi kembali bangkit. Selama kuliah, sempat menjadi Wakil Sekjen Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Koordinator Bidang Penelitian dan Evaluasi (LITEV) Racana Latadampare, dan mendirikan sebuah organisasi sastra dengan nama Gerbang Sastra sekaligus menjadi ketua periode pertama. Sederet organisasi yang digeluti membentuk jiwa idelisme seorang mahasiswa.

Tidak hanya di dalam kampus, bahkan membawa Gerbang Sastra menjalin korelasi dengan Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya Kab. Wajo dan akhirnya mendapat kepercayaan menjadi delegasi Kab. Wajo pada Sayembara Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Selatan tahun 2007 dengan hasil Juara II. Prestasi yang diraih mengantar menjadi Direktur Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSBMI) HMI Cab. Wajo tahun 2007. Kegiatan organisasi di kampus maupun di luar tidaklah menghalangi tugas sebagai guru di sekolah. Pihak sekolah justru mendaulat menjadi guru mata pelajaran Sastra Indonesia di jurusan Bahasa tahun 2007 selain tetap mengajarkan mata pelajaran TIK. Pengalaman pada bidang pembinaan kesiswaan pun semakin bertambah sejak dipasang pada beberapa bidang pembinaan, seperti Palang Merah Remaja (PMR), Kelompok Pecinta Alam SMANSA (KOMPAS), dan Gerakan Pramuka.

Tahun 2008, setelah membuat sebuah esai yang berjudul "KKLP: Rekreasi Tahunan Pejabat Struktural", yang mengkritik pelaksanaan KKLP di kampus, pihak struktural kampus mengeluarkan surat sanksi akademik berisi skorsing selama 3 (tiga) bulan. Tidak menerima keputusan itu, akhirnya memutuskan hijrah ke Universitas Muhammadiyah Makassar dengan jurusan yang sama. Jarak Sengkang-Makassar tidak menghalangi niat menuntut ilmu di samping tetap mengabdi pada almamater, yakni tetap mengajar walau harus pergi-pulang setiap minggu. Di sela-sela waktu antara kuliah dan mengajar, masih sempat meluangkan waktu melatih tari pada Sanggar Seni Lasangkuru bekerja sama dengan Gerbang Sastra untuk dipentaskan pada Festival Keraton Nusantara VI tahun 2008.

Tahun 2009, kembali mendapat kepercayaan dari Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kab. Wajo untuk menjadi delegasi pada Festival Budaya Serumpun Melayu. Kredibilitas dalam bidang seni semakin menguat seiring datangnya tawaran dari SMAN 1 Pammana menjadi guru mata pelajaran Seni Budaya. Baru 2 minggu mengajar, kembali mendapat kepercayaan, kali ini dari Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika untuk menampilkan Pertunjukan Rakyat pada Pameran Pembangunan Sulawesi Selatan di Makassar.


Setelah menyelesaikan studi S-1 pada tahun 2010, kembali mendapat tawaran mengajar di SMPN 4 Tansitolo, Andalan Kabupaten Wajo, pada mata pelajaran Seni Budaya dan TIK. Selain itu, dipercayakan juga membina pengembangan diri Jurnalistik. Sejak saat itu, SMPN 4 Tanasitolo mempublikasikan buletin yang diberi nama Buletin NARASI (Wahana Ekspresi dan Apresiasi Siswa).

Selama aktif pada organisasi dan bidang pendidikan, sering mendapat kesempatan mengikuti seminar-seminar dan pelatihan, di antaranya Diklat Pembuatan Webmaster Sekolah, Diklat Kompetensi Guru TIK SMA se-Kab. Wajo (Peringkat 2),Diklat Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan, Diklat Administrasi dan Kesekretariatan, Diklat Jurnalistik, Kursus Mahir Dasar (KMD) Pembina Pramuka, Diklat Manajemen Pembinaan PMR, dsb. Selain itu, juga sering mendapat kepercayaan membawakan materi pada diklat kepemimpinan dan organisasi, bahkan pelatihan jurnalistik. Melalui eksistensi sebagai guru mata pelajaran Seni Budaya mengantar SMPN 4 Tanasitolo bekerjasama dengan Sanggar Seni "SIMENTEMPOLA" melaksanakan pelatihan seni tradisional di SMPN 4 Tanasitolo.

Tidak terlepas dari aktivitas keseharian, beberapa karya yang telah dihasilkan, di antaranya Tari Pappaseng (Juara III Lomba Tari Tk SD se-Kec. Tempe Tahun 2003), Tari Maruddani (Juara II Lomba Tari Tk. SMP se-Kec. Pammana Tahun 2006), Cerpen “Hidup di Persimpangan Jalan” (2007) dan “Surat kepada Tuhan” (2008) yang mendapat penghargaan dari Departemen Pendidikan Nasional, Drama “Tragedi Pengantin Remaja” (2006), Cerita Rakyat “Gettenna Latenribali” (Juara II Sayembara Cerita Rakyat Daerah Sulsel 2007), dsb.

Walau beberapa sahabat karib dan kerabat menjuluki "multi talenta", namun tetap merasa sebagai manusia biasa yang juga mengidolakan sosok tokoh, seperti Gus Dur, Chairil Anwar, Soe Hok Gie, Iwan Fals, dan Rhoma Irama. Tak mengherankan jika prinsip hidup yang ditekadkan, "Hidup adalah Pengabdian", tampak seperti bentuk representasi sosok tokoh yang diidolakan.

Nun wal qalaami wamaa yasthurun
Demi pena dan tinta yang dituliskannya

Fastabiqul khaerat

Satyaku kudarmakan, darmaku kubaktikan
Ikhlas bakti bina bangsa berbudi bawa laksana

Noi siamu tutty fratelly

Dari titik ini
Sedang kita tarik garis lurus
Ke titik berikutnya

Hidup adalah Pengabdian