Senin, 27 September 2010

Skripsi "Makna Simbol dalam Mantra Bugis Dialek Wajo (Telaah Semiotik Sastra Klasik Lisan Bugis)

ABSTRAK

Abdullah
. 2010. Makna Simbol dalam Mantra Bugis Dialek Wajo (Telaah Semiotik Sastra Klasik Lisan Bugis). Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar (dibimbing oleh Andi Sukri Syamsuri selaku Pembimbing I dan Munirah selaku Pembimbing II).

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan eksistensi mantra dalam kehidupan masyarakat Bugis Wajo; dan (2) mendeskripsikan karakteristik simbol dalam mantra Bugis dialek Wajo.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, karena penelitian ini hanya mengungkapkan apa adanya tentang makna simbol dalam mantra Bugis dialek Wajo, yang meliputi mantra cenningrara (pengasihan), parémboloq (kekebalan), paremmaq (hipnotis), pappasémpo dalléq (peruntungan), pabbura (pengobatan), dengan menggunakan pendekatan semiotik. Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah simbol yang dijadikan dasar kajian yang berbentuk kata atau frase kata dalam mantra yang mengandung makna arbriter. Data berupa mantra yang dimaksud bersumber dari informan yang berdomisili di Kabupaten Wajo dan dianggap banyak mengetahui tentang mantra dengan memperhatikan latar belakang kehidupan informan tersebut disesuaikan dengan jenis mantra yang diberikan. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara yang disesuaikan dengan tujuan dan fokus masalah, kemudian diurut berdasarkan kekuatan dan kesesuaian isinya dengan tujuan pengkajian. Isinya dianalisis (diurai), dibandingkan, dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian sistematis, padu, dan utuh. Analisis data dilakukan secara berulang-ulang dan bolak-balik (spiral) menurut keperluan, dengan fokus pada simbol yang terdapat dalam mantra Bugis dialek Wajo. Dengan demikian, proses analisis data dilakukan melalui tahapan (1) mereduksi data, (2) penyajian data dan (3) penyimpulan dan verivikasi.

Penelitian ini menyimpulkan hasil bahwa mantra Bugis telah beredar sejak lama dalam lingkungan masyarakat Bugis Wajo. Masyarakat menganggap mantra sebagai doa. Namun terlepas dari semua itu, jika ditinjau dari unsur yang membentuknya, mantra lebih banyak menggunakan simbol dan permainan bunyi (sound setrum) yang mengindikasikan eksistensi mantra sebagai karya sastra bergenre puisi. Simbol yang digunakan berupa nama benda, tindakan atau perlakuan, nama nabi, huruf Arab, dan nama Tuhan.

1 komentar:

  1. Bagaimana halnya dengan Pattiro Deceng dan Pattiro Kanja' daeng ?

    BalasHapus

Tinggalkan komentar Anda setelah membaca isi blog ini.