ABSTRAK
Abdullah. 2010. Makna Simbol dalam Mantra Bugis Dialek Wajo (Telaah Semiotik Sastra Klasik Lisan Bugis). Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar (dibimbing oleh Andi Sukri Syamsuri selaku Pembimbing I dan Munirah selaku Pembimbing II).
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan eksistensi mantra dalam kehidupan masyarakat Bugis Wajo; dan (2) mendeskripsikan karakteristik simbol dalam mantra Bugis dialek Wajo.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, karena penelitian ini hanya mengungkapkan apa adanya tentang makna simbol dalam mantra Bugis dialek Wajo, yang meliputi mantra cenningrara (pengasihan), parémboloq (kekebalan), paremmaq (hipnotis), pappasémpo dalléq (peruntungan), pabbura (pengobatan), dengan menggunakan pendekatan semiotik. Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah simbol yang dijadikan dasar kajian yang berbentuk kata atau frase kata dalam mantra yang mengandung makna arbriter. Data berupa mantra yang dimaksud bersumber dari informan yang berdomisili di Kabupaten Wajo dan dianggap banyak mengetahui tentang mantra dengan memperhatikan latar belakang kehidupan informan tersebut disesuaikan dengan jenis mantra yang diberikan. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara yang disesuaikan dengan tujuan dan fokus masalah, kemudian diurut berdasarkan kekuatan dan kesesuaian isinya dengan tujuan pengkajian. Isinya dianalisis (diurai), dibandingkan, dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian sistematis, padu, dan utuh. Analisis data dilakukan secara berulang-ulang dan bolak-balik (spiral) menurut keperluan, dengan fokus pada simbol yang terdapat dalam mantra Bugis dialek Wajo. Dengan demikian, proses analisis data dilakukan melalui tahapan (1) mereduksi data, (2) penyajian data dan (3) penyimpulan dan verivikasi.
Penelitian ini menyimpulkan hasil bahwa mantra Bugis telah beredar sejak lama dalam lingkungan masyarakat Bugis Wajo. Masyarakat menganggap mantra sebagai doa. Namun terlepas dari semua itu, jika ditinjau dari unsur yang membentuknya, mantra lebih banyak menggunakan simbol dan permainan bunyi (sound setrum) yang mengindikasikan eksistensi mantra sebagai karya sastra bergenre puisi. Simbol yang digunakan berupa nama benda, tindakan atau perlakuan, nama nabi, huruf Arab, dan nama Tuhan.
Senin, 27 September 2010
Cerpen "Hidup di Persimpangan Jalan"
Karya: Abdullah
“Etta, pulangmi Nurdin!” Seru adikku ketika melihatku dari arah kejauhan. Kulihat kedua ettaku bergegas keluar dari dalam rumah hendak menyambutku. Ada keceriaan dan kegembiraan yang terpancar dari wajah mereka. Aku juga melihat titik-titik air yang keluar dari mata air air mata etta makkunraiku, tapi aku yakin itu adalah keharuan seorang ibu. Adikku membantuku mengangkat barang-barang yang aku bawa. Aku digiring masuk ke dalam rumah. Semua peristiwa tadi sore masih jelas di ingatanku.
Kini aku duduk menyendiri di beranda depan rumahku. Semilir angin malam menyapa tubuhku dan merasuk hingga ke sumsum tulangku yang paling dalam. Kutarik sarung yang menutupi kakiku hingga menyelimuti tubuhku, walau aku harus melipat kakiku. Kini tinggal kepalaku yang kelihatan menyaksikan suasana malam pedesaan yang sepi dan sunyi. Daerah yang jauh dari jangkauan gemerlap cahaya lampu jalan dan deru mesin yang terasa bising di pendengaran. Yang ada hanya cahaya rembulan dari sela-sela daun pohon rindang di depan rumahku dan suara binatang malam yang seakan mengalun. Entah lagu apa yang didendangkannya?
Ini malam pertama aku di desa setelah sekian lama meniti garis antartitik mencari kesejatian diri di kota. Tak banyak yang aku bawa pulang. Hanya sedikit bingkisan untuk kedua ettaku dan adikku satu-satunya. Tampaknya mereka tidak mengharapkan apa-apa dariku. Aku sudah pulang, itu saja sudah cukup bagi mereka. Tapi aku bisa berbangga karena telah banyak pengalaman yang aku dapatkan selama penitianku.
Lika-liku kehidupan yang rumit tak lepas dari pengamatanku. Masih jelas di benakku orang-orang membawa alat musik sambil memainkannya, mereka berkeliling kota sambil menjajakan suara yang tidak begitu merdu di setiap sudut kota. Ada juga sekelompok bocah, lato, dan kajau yang membawa kaleng bekas di depan traffic light.
Sementara itu, gedung-gedung mewah berbaris seakan menggambarkan kesejahteraan penduduk kota. Tapi siapa yang menyangka kalau di balik kemewahan itu, pemandangan yang kita temukan justru jauh lebih memprihatinkan dari sekelompok bocah, lato, kajau, dan, pengamen di jalanan. Dengan dalih kebutuhan sehari-hari, mereka bekerja. Banyak lelaki yang bekerja sebagai juru masak, dan tak sedikit lelaki yang bekerja sebagai penata rias. Bukan itu yang memilukan hati, melainkan tingkah laku mereka yang menyerupai perempuan.
Kala malam tiba, gelap menyelimuti cakrawala, mereka keluar sekedar memenuhi kebutuhan lainnya. Rupanya mereka belum puas dengan apa yang mereka dapatkan dari bekerja seharian. Mereka bak artis papan atas bersaing mencari fans. Di sudut-sudut kota yang jauh dari gemerlap lampu jalan yang menyibak kegelapan malam, mereka bercengkrama dengan lelaki hidung belang yang kebanyakan telah beristri dan bahkan sudah punya anak. Sudah berapa banyak hak perempuan yang mereka ambil?
Tak herah kalau kaum perempuan sudah mulai turun ke jalan mengibarkan bendera emansipasi. Mereka ingin menuntut hak. Mereka berarak bak pawai berkeliling kota masih dengan bendera emansipasi. Tapi emansipasi dalam bentuk apa, jika tak jarang mereka ditemukan berduaan dengan lelaki yang bukan suaminya di dalam kamar hotel yang mewah?
***
Kebutuhan demi kebutuhan yang mendesak menjadi alasan para waria itu bekerja siang dan malam. Siang hari mereka lalui dengan bekerja di dalam gedung mewah menggunakan keterampilan dan keahlian mereka. Malam hari mereka lewati dengan melenggok dan melenggang di depan lelaki hidung belang bak peragawati menawarkan kenikmatan. Tapi tidak sedikit juga di antara waria itu yang berdalih bahwa mereka memang dilahirkan dengan perasaan dan jiwa seperti kaum perempuan pada umumnya. Kalau memang itu benar, mengapa mereka tidak menjadi bissu saja?
Tak luput juga dari perhatianku, aparat keamanan yang tiap malam mengadakan razia di setiap tempat hiburan malam dan sudut-sudut kota. Mereka berkejar-kejaran dengan para pekerja seks komersial. Baik itu perempuan, maupun lelaki yang menyerupai perempuan. Tapi aku heran. Mengapa mereka bisa saja lolos dari razia itu? Bahkan keesokan harinya, ketika sang surya kembali menyinari cakrawala, burung-burung berkicau menyamput pagi yang indah, mereka kembali berkemas hendak bekerja. Tentu saja dengan dandanan mereka yang seperti Madona ataukah Britney Spears, seakan semalam mereka tak terjaring razia. Ataukah aparat keamanan juga sudah dapat bagian?
Pertanyaan demi pertanyaan terasa membengkak di benakku. Jawaban yang aku dapat harus kembali kepada kebutuhan ekonomi yang semakin hari semakin meningkat dan mendesak kita untuk berlomba mencapai puncaknya. Seperti yang dialami oleh salah seorang temanku semasa SD dulu, Firman, yang kini telah mengganti namannya menjadi Firma.
Masih segar di ingatanku, bagaimana dulu Firman adalah cerminan lelaki yang kuat dan kekar. Bahkan beberapa remaja perempuan di desaku pada saat itu memujanya. Mereka tertarik pada Firman. Beberapa di antara mereka terkadang berkata, “Man, kalau besarki’ nanti, maukiga jadi pacarku?” Tentu saja Firman merasa malu. Sementara aku cemburu setiap gadis-gadis di desaku menghampiri kami yang sedang mallogo di halaman rumah.
Anganku terus melayang membuka lembaran-lembaran diary kehidupan yang telah aku gores dengan tinta perjalananku. Aku tak mampu membuang memoriku tentang Firman. Aku teringat setiap kali kami mallogo di halaman rumah pada sore hari sepulang dari mengaji. Di saat-saat seperti itulah, biasanya Jamila, waria yang ada di desaku lewat. Spontan saja, Firman pergi sambil berkata, “Cilaka! Tidak dapatki’ lagi berkah empat puluh hari.” Seperti itulah anggapan orang-orang di desaku setiap kali bertemu dengan waria.
Kini Firman telah banyak berubah. Terakhir aku bertemu dengannya di sebuah salon saat aku hendak merapikan rambutku. Aku hampir tak mengenalnya seandainya bukan dia yang lebih dulu menyapaku. Saat itu, aku berusaha menyadarkannya. Tapi seperti yang lainnya, dia ingin hidup lebih mewah. Berulang kali aku membujuknya untuk bekerja sebagaimana layaknya seorang lelaki, tapi jawaban yang aku dapatkan tetap sama.
“Firman, kenapaki’ berbuat seperti ini?” Tanyaku pada Firman.
“Ssstt… Janganki’ keras-keras. Nanti nadengar orang. Bukanmi Firman namaku, tapi Firma.” Dengan gayanya yang khas waria dia menarikku ke tempat duduk. Dia memandang sekeliling ruangan. Rupanya dia tidak ingin diketahui identitasnya oleh teman-teman dan para pelanggannya. Tentu saja aku geli melihat tingkah lakunya. Tapi aku menyembunyikan gelagatku. Aku tidak ingin dia tersinggung.
“Terpaksaka’, Din. Sudah lamaka’ hidup di kota, tapi kehidupanku tetap saja seperti di desa. Mauka’ hidup mewah. Lagipula kerja begini lebih mudah. ‘Ndak perlu mengeluarkan tenaga yang banyak.”
“Apa ‘ndak muingat kalau dulu sangat kita benci bencong. Walau hidup bencong kelihatan mewah, tapi tetap sajaki’ anggap semua itu ‘ndak ada berkahnya. Bahkan seringki’ menghindar kalau bertemuki’ dengan bencong.”
“Itu dulu, Din, sebelumki’ melaluinya. Sekarang baruka’ rasakan, betapa susahnya mencari sesuap nasi untuk tetap bertahan hidup. Nah, kalau adami jalan keluarnya, Kenapaki’ tidak lewati saja?”
“Lantas, sampai kapanki’ terus begini?” Tanyaku lirih.
“’Ndak kutahumi, Din. Yang jelasnya, sekarang sudah bahagiama’ dengan pilihan hidupku.”
Aku terdiam mendengarkan kata-kata Firman. Rupanya tekadnya betul-betul sudah bulat. Aku tak mampu menyadarkannya.
“Bagaimana dengan pekerjaanta’, Din?”
“Masih seperti duluka’. Rasanya ‘ndak ada bedanya tinggalka’ di desa sama di kota.” Sebenarnya aku malu menuturkan hal itu pada Firman, tapi aku rasa bahwa aku masih lebih berharga daripada dia.
“Tidak berminatki’ seperti aku? Adami rumah sendiri, usaha sendiri, dan ‘ndak lagi bergantung pada orang lain.”
“Apa? ‘Ndak, Firman! Sedikitpun tidak tergodaka’ oleh kemewahanta’. Masih lebih jauh berhargaka’ daripada bencong yang demi kemewahan, rela menistakan diri. Ini siri, Firman.” Aku meninggalkan Firman dengan segudang impiannya. Aku hanya bisa berharap, semoga Firman bisa menyadari apa yang telah ia perbuat.
Firman, sahabat kecilku, yang dulu sangat antipati terhadap waria, kini justru telah menjelma menjadi waria. Belum lekang di benakku tentang Firman yang selalu menghindar pada Jamila. Tiba-tiba aku teringat Jamila. Dimana dia sekarang? Aku beranjak dari tempat dudukku mencoba menyelidik ke luar, ke arah rumah mewah yang ada di depan rumahku. Di balik jendela, aku bisa melihat seorang lelaki tua sedang berjalan bungkuk. Benarkah itu Jamal yang dulu dikenal sebagai Jamila?
Aku perhatikan dari jauh. Ternyata benar, dia adalah Jamila. Kini dia sudah tua dan hidup sendiri di rumah mewah itu. Dia tidak punya keturunan yang bisa merawatnya. “Kasihan dia.” Bisikku lirih. Aku terus saja memperhatikan Jamila hingga timbul lagi pertanyaan dalam benakku. “Kalau waria tidak punya keturunan, bagaimana mereka bisa berkembang?”
***
Malam semakin larut. Udara terasa semakin dingin mengibarkan sarung yang menyelimuti tubuhku. Aku tak mampu lagi menahan dinginnya angin malam. Tiba-tiba suara ettaku terdengar memanggil. Aku masuk ke dalam rumah dan duduk di tengah-tengah keluargaku. Tampaknya ada hal yang sangat penting yang ingin mereka bicarakan.
”Mauka’ bicara denganta’, Aco.” Terdengar suara etta buraneku memulai pembicaraan.
“Kenapaki’, Etta?”
“Ini menyangkut pendidikan adekmu, Ecce.” Ettaku mengentikan sejenak pembicaraannya. Setelah menelan ludah yang menghalangi tenggorokannya, kemudian dia melanjutkannya kembali. “Tamatmi SMA adekmu. Maui kuliah. Sementara tidak bisaka’ lagi biayai kuliahnya.”
Aku hanya mampu terdiam dan tertunduk lesu ketika mendengar kata-kata ettaku. Aku sudah mengerti maksudnya. Tapi bagaimana aku bisa mewujudkan semua keinginan ettaku kalau gaji yang aku dapatkan selama ini sebagai seorang pegawai kecil di instansi hanya cukup untuk kebutuhanku sehari-hari. Aku juga tidak ingin mengecewakan kedua ettaku yang telah membanting tulang demi mewujudkan cita-citaku.
Aku menyesali diriku yang hanya pegawai kecil. Pikiranku semakin tak tenang, tapi aku berusaha bersikap tenang di hadapan kedua ettaku. Aku menyanggupi permintaan mereka. Aku tidak ingin dikatakan anak yang tidak tahu membalas budi kepada orang tuanya.
“Oh, Tuhan. Aku hanyalah seorang pegawai kecil. Haruskah aku berjuang keras untuk memenuhi kebutuhanku dan adikku, seperti yang dilakukan sahabat kecilku, Firman? Lalu, ettaku akan memanggilku ‘Ecce’.”
***
Lagosi, 17 Pebruari 2009
Catatan:
Aco : Sapaan orang tua terhadap anak laki-lakinya.
Bissu : Komunitas adat orang Bugis yang terdiri dari kaum waria yang merupakan orang kepercayaan raja.
Ecce : Sapaan orang tua terhadap anak perempuannya.
Etta : Sapaan orang Bugis untuk orang tua.
Etta burane : Ayah
Etta makkunrai : Ibu
Kajau : Perempuan yang sudah tua renta.
Lato : Laki-laki yang sudah tua renta.
Mallogo : Sejenis permainan rakyat orang Bugis.
Siri : Malu/memalukan. Dalam budaya Bugis, pantang orang-orang menyandang perasaan siri dan melakukan perbuatan yang membuahkan siri.
“Etta, pulangmi Nurdin!” Seru adikku ketika melihatku dari arah kejauhan. Kulihat kedua ettaku bergegas keluar dari dalam rumah hendak menyambutku. Ada keceriaan dan kegembiraan yang terpancar dari wajah mereka. Aku juga melihat titik-titik air yang keluar dari mata air air mata etta makkunraiku, tapi aku yakin itu adalah keharuan seorang ibu. Adikku membantuku mengangkat barang-barang yang aku bawa. Aku digiring masuk ke dalam rumah. Semua peristiwa tadi sore masih jelas di ingatanku.
Kini aku duduk menyendiri di beranda depan rumahku. Semilir angin malam menyapa tubuhku dan merasuk hingga ke sumsum tulangku yang paling dalam. Kutarik sarung yang menutupi kakiku hingga menyelimuti tubuhku, walau aku harus melipat kakiku. Kini tinggal kepalaku yang kelihatan menyaksikan suasana malam pedesaan yang sepi dan sunyi. Daerah yang jauh dari jangkauan gemerlap cahaya lampu jalan dan deru mesin yang terasa bising di pendengaran. Yang ada hanya cahaya rembulan dari sela-sela daun pohon rindang di depan rumahku dan suara binatang malam yang seakan mengalun. Entah lagu apa yang didendangkannya?
Ini malam pertama aku di desa setelah sekian lama meniti garis antartitik mencari kesejatian diri di kota. Tak banyak yang aku bawa pulang. Hanya sedikit bingkisan untuk kedua ettaku dan adikku satu-satunya. Tampaknya mereka tidak mengharapkan apa-apa dariku. Aku sudah pulang, itu saja sudah cukup bagi mereka. Tapi aku bisa berbangga karena telah banyak pengalaman yang aku dapatkan selama penitianku.
Lika-liku kehidupan yang rumit tak lepas dari pengamatanku. Masih jelas di benakku orang-orang membawa alat musik sambil memainkannya, mereka berkeliling kota sambil menjajakan suara yang tidak begitu merdu di setiap sudut kota. Ada juga sekelompok bocah, lato, dan kajau yang membawa kaleng bekas di depan traffic light.
Sementara itu, gedung-gedung mewah berbaris seakan menggambarkan kesejahteraan penduduk kota. Tapi siapa yang menyangka kalau di balik kemewahan itu, pemandangan yang kita temukan justru jauh lebih memprihatinkan dari sekelompok bocah, lato, kajau, dan, pengamen di jalanan. Dengan dalih kebutuhan sehari-hari, mereka bekerja. Banyak lelaki yang bekerja sebagai juru masak, dan tak sedikit lelaki yang bekerja sebagai penata rias. Bukan itu yang memilukan hati, melainkan tingkah laku mereka yang menyerupai perempuan.
Kala malam tiba, gelap menyelimuti cakrawala, mereka keluar sekedar memenuhi kebutuhan lainnya. Rupanya mereka belum puas dengan apa yang mereka dapatkan dari bekerja seharian. Mereka bak artis papan atas bersaing mencari fans. Di sudut-sudut kota yang jauh dari gemerlap lampu jalan yang menyibak kegelapan malam, mereka bercengkrama dengan lelaki hidung belang yang kebanyakan telah beristri dan bahkan sudah punya anak. Sudah berapa banyak hak perempuan yang mereka ambil?
Tak herah kalau kaum perempuan sudah mulai turun ke jalan mengibarkan bendera emansipasi. Mereka ingin menuntut hak. Mereka berarak bak pawai berkeliling kota masih dengan bendera emansipasi. Tapi emansipasi dalam bentuk apa, jika tak jarang mereka ditemukan berduaan dengan lelaki yang bukan suaminya di dalam kamar hotel yang mewah?
***
Kebutuhan demi kebutuhan yang mendesak menjadi alasan para waria itu bekerja siang dan malam. Siang hari mereka lalui dengan bekerja di dalam gedung mewah menggunakan keterampilan dan keahlian mereka. Malam hari mereka lewati dengan melenggok dan melenggang di depan lelaki hidung belang bak peragawati menawarkan kenikmatan. Tapi tidak sedikit juga di antara waria itu yang berdalih bahwa mereka memang dilahirkan dengan perasaan dan jiwa seperti kaum perempuan pada umumnya. Kalau memang itu benar, mengapa mereka tidak menjadi bissu saja?
Tak luput juga dari perhatianku, aparat keamanan yang tiap malam mengadakan razia di setiap tempat hiburan malam dan sudut-sudut kota. Mereka berkejar-kejaran dengan para pekerja seks komersial. Baik itu perempuan, maupun lelaki yang menyerupai perempuan. Tapi aku heran. Mengapa mereka bisa saja lolos dari razia itu? Bahkan keesokan harinya, ketika sang surya kembali menyinari cakrawala, burung-burung berkicau menyamput pagi yang indah, mereka kembali berkemas hendak bekerja. Tentu saja dengan dandanan mereka yang seperti Madona ataukah Britney Spears, seakan semalam mereka tak terjaring razia. Ataukah aparat keamanan juga sudah dapat bagian?
Pertanyaan demi pertanyaan terasa membengkak di benakku. Jawaban yang aku dapat harus kembali kepada kebutuhan ekonomi yang semakin hari semakin meningkat dan mendesak kita untuk berlomba mencapai puncaknya. Seperti yang dialami oleh salah seorang temanku semasa SD dulu, Firman, yang kini telah mengganti namannya menjadi Firma.
Masih segar di ingatanku, bagaimana dulu Firman adalah cerminan lelaki yang kuat dan kekar. Bahkan beberapa remaja perempuan di desaku pada saat itu memujanya. Mereka tertarik pada Firman. Beberapa di antara mereka terkadang berkata, “Man, kalau besarki’ nanti, maukiga jadi pacarku?” Tentu saja Firman merasa malu. Sementara aku cemburu setiap gadis-gadis di desaku menghampiri kami yang sedang mallogo di halaman rumah.
Anganku terus melayang membuka lembaran-lembaran diary kehidupan yang telah aku gores dengan tinta perjalananku. Aku tak mampu membuang memoriku tentang Firman. Aku teringat setiap kali kami mallogo di halaman rumah pada sore hari sepulang dari mengaji. Di saat-saat seperti itulah, biasanya Jamila, waria yang ada di desaku lewat. Spontan saja, Firman pergi sambil berkata, “Cilaka! Tidak dapatki’ lagi berkah empat puluh hari.” Seperti itulah anggapan orang-orang di desaku setiap kali bertemu dengan waria.
Kini Firman telah banyak berubah. Terakhir aku bertemu dengannya di sebuah salon saat aku hendak merapikan rambutku. Aku hampir tak mengenalnya seandainya bukan dia yang lebih dulu menyapaku. Saat itu, aku berusaha menyadarkannya. Tapi seperti yang lainnya, dia ingin hidup lebih mewah. Berulang kali aku membujuknya untuk bekerja sebagaimana layaknya seorang lelaki, tapi jawaban yang aku dapatkan tetap sama.
“Firman, kenapaki’ berbuat seperti ini?” Tanyaku pada Firman.
“Ssstt… Janganki’ keras-keras. Nanti nadengar orang. Bukanmi Firman namaku, tapi Firma.” Dengan gayanya yang khas waria dia menarikku ke tempat duduk. Dia memandang sekeliling ruangan. Rupanya dia tidak ingin diketahui identitasnya oleh teman-teman dan para pelanggannya. Tentu saja aku geli melihat tingkah lakunya. Tapi aku menyembunyikan gelagatku. Aku tidak ingin dia tersinggung.
“Terpaksaka’, Din. Sudah lamaka’ hidup di kota, tapi kehidupanku tetap saja seperti di desa. Mauka’ hidup mewah. Lagipula kerja begini lebih mudah. ‘Ndak perlu mengeluarkan tenaga yang banyak.”
“Apa ‘ndak muingat kalau dulu sangat kita benci bencong. Walau hidup bencong kelihatan mewah, tapi tetap sajaki’ anggap semua itu ‘ndak ada berkahnya. Bahkan seringki’ menghindar kalau bertemuki’ dengan bencong.”
“Itu dulu, Din, sebelumki’ melaluinya. Sekarang baruka’ rasakan, betapa susahnya mencari sesuap nasi untuk tetap bertahan hidup. Nah, kalau adami jalan keluarnya, Kenapaki’ tidak lewati saja?”
“Lantas, sampai kapanki’ terus begini?” Tanyaku lirih.
“’Ndak kutahumi, Din. Yang jelasnya, sekarang sudah bahagiama’ dengan pilihan hidupku.”
Aku terdiam mendengarkan kata-kata Firman. Rupanya tekadnya betul-betul sudah bulat. Aku tak mampu menyadarkannya.
“Bagaimana dengan pekerjaanta’, Din?”
“Masih seperti duluka’. Rasanya ‘ndak ada bedanya tinggalka’ di desa sama di kota.” Sebenarnya aku malu menuturkan hal itu pada Firman, tapi aku rasa bahwa aku masih lebih berharga daripada dia.
“Tidak berminatki’ seperti aku? Adami rumah sendiri, usaha sendiri, dan ‘ndak lagi bergantung pada orang lain.”
“Apa? ‘Ndak, Firman! Sedikitpun tidak tergodaka’ oleh kemewahanta’. Masih lebih jauh berhargaka’ daripada bencong yang demi kemewahan, rela menistakan diri. Ini siri, Firman.” Aku meninggalkan Firman dengan segudang impiannya. Aku hanya bisa berharap, semoga Firman bisa menyadari apa yang telah ia perbuat.
Firman, sahabat kecilku, yang dulu sangat antipati terhadap waria, kini justru telah menjelma menjadi waria. Belum lekang di benakku tentang Firman yang selalu menghindar pada Jamila. Tiba-tiba aku teringat Jamila. Dimana dia sekarang? Aku beranjak dari tempat dudukku mencoba menyelidik ke luar, ke arah rumah mewah yang ada di depan rumahku. Di balik jendela, aku bisa melihat seorang lelaki tua sedang berjalan bungkuk. Benarkah itu Jamal yang dulu dikenal sebagai Jamila?
Aku perhatikan dari jauh. Ternyata benar, dia adalah Jamila. Kini dia sudah tua dan hidup sendiri di rumah mewah itu. Dia tidak punya keturunan yang bisa merawatnya. “Kasihan dia.” Bisikku lirih. Aku terus saja memperhatikan Jamila hingga timbul lagi pertanyaan dalam benakku. “Kalau waria tidak punya keturunan, bagaimana mereka bisa berkembang?”
***
Malam semakin larut. Udara terasa semakin dingin mengibarkan sarung yang menyelimuti tubuhku. Aku tak mampu lagi menahan dinginnya angin malam. Tiba-tiba suara ettaku terdengar memanggil. Aku masuk ke dalam rumah dan duduk di tengah-tengah keluargaku. Tampaknya ada hal yang sangat penting yang ingin mereka bicarakan.
”Mauka’ bicara denganta’, Aco.” Terdengar suara etta buraneku memulai pembicaraan.
“Kenapaki’, Etta?”
“Ini menyangkut pendidikan adekmu, Ecce.” Ettaku mengentikan sejenak pembicaraannya. Setelah menelan ludah yang menghalangi tenggorokannya, kemudian dia melanjutkannya kembali. “Tamatmi SMA adekmu. Maui kuliah. Sementara tidak bisaka’ lagi biayai kuliahnya.”
Aku hanya mampu terdiam dan tertunduk lesu ketika mendengar kata-kata ettaku. Aku sudah mengerti maksudnya. Tapi bagaimana aku bisa mewujudkan semua keinginan ettaku kalau gaji yang aku dapatkan selama ini sebagai seorang pegawai kecil di instansi hanya cukup untuk kebutuhanku sehari-hari. Aku juga tidak ingin mengecewakan kedua ettaku yang telah membanting tulang demi mewujudkan cita-citaku.
Aku menyesali diriku yang hanya pegawai kecil. Pikiranku semakin tak tenang, tapi aku berusaha bersikap tenang di hadapan kedua ettaku. Aku menyanggupi permintaan mereka. Aku tidak ingin dikatakan anak yang tidak tahu membalas budi kepada orang tuanya.
“Oh, Tuhan. Aku hanyalah seorang pegawai kecil. Haruskah aku berjuang keras untuk memenuhi kebutuhanku dan adikku, seperti yang dilakukan sahabat kecilku, Firman? Lalu, ettaku akan memanggilku ‘Ecce’.”
***
Lagosi, 17 Pebruari 2009
Catatan:
Aco : Sapaan orang tua terhadap anak laki-lakinya.
Bissu : Komunitas adat orang Bugis yang terdiri dari kaum waria yang merupakan orang kepercayaan raja.
Ecce : Sapaan orang tua terhadap anak perempuannya.
Etta : Sapaan orang Bugis untuk orang tua.
Etta burane : Ayah
Etta makkunrai : Ibu
Kajau : Perempuan yang sudah tua renta.
Lato : Laki-laki yang sudah tua renta.
Mallogo : Sejenis permainan rakyat orang Bugis.
Siri : Malu/memalukan. Dalam budaya Bugis, pantang orang-orang menyandang perasaan siri dan melakukan perbuatan yang membuahkan siri.
Sastra
Sebuah karya yang berkualitas tidak hanya
mengedepankan unsur hiburan. Karya merupakan media untuk menyampaikan amanat. Setidaknya,
dalam sebuah karya yang berkualitas, terdapat dua dimensi amanat, yakni
menggugat dan menggugah. Hal inilah yang dilakukan oleh siswa SMA Athirah
Makassar yang tergabung dalam Teater Baruga. Melalui teater sebagai
sebuah karya seni, siswa SMA Athirah Makassar menggugat KPK yang dikenal
sebagai lembaga anti rasuah. Sepeti apa
gugatan yang disampaikan?
Baca selengkapnya....
CitraLelaki Bugis-Makassar dalam“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”
Akhir tahun 2013, demam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (TKVDW) sangat terasa di semua lapisan masyarakat lintas generasi. Perbincangan tentang TKVDW tidak hanya dalam forum diskusi formal dan non formal, tetapi juga marak menjadi bahan diskusi di media sosial, seperti facebook dan twitter. Semua ini tidak terlepas dari rencana pemutaran perdana film TKVDW yang diangkat dari novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dengan judul yang sama. Film garapan Sunil Soraya tersebut diputar perdana pada tanggal 19 Desember 2013 mendatang.
Baca selengkapnya....
Tragedi Ruyati Dua Ribu Sebelas
(Puisi ini berhasil menjuarai Lomba Puisi Kemanusiaan dalam rangka Kemah Bakti dan Lomba VII PMR Wira se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di PKP KNPI Sudiang Makassar dan dibacakan oleh Nurfadilah, kontingen PMR SMAN 1 Sengkang)
Baca selengkapnya....
Nilai Sosial dalam Novel "Azab dan Sengsara" Karya Merari Siregar
Kehidupan yang dijalani oleh manusia di dunia ini adalah kehidupan bermasyarakat karena manusia merupakan makhluk sosial. Seseorang tidak akan dapat hidup tanpa orang lain.
Hubungan manusia dengan masyarakat harus dilihat sebagai hubungan seseorang dengan masyarakat secara terpadu bukan dengan manusia secara perseorangan. Hubungan itu merupakan realisasi dari dorongan naluri “bergaul” bagi manusia yang keberadaannya di dalam diri manusia sejak lahir manusia, tanpa dipelajari. Dalam hubungan itu, manusia akan melibatkan dirinya dalam masyarakat secara penuh tanpa mempersoalkan keuntungan dan kerugian yang diperolehnya dalam masyarakat itu.
Baca selengkapnya ....
Matrilinear dalam Novel "Layar Terkembang" Karya HAMKA
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan sebuah karya tersohor yang ditulis oleh HAMKA. Novel yang berisi kisah cinta antara seorang pemuda Zainuddin dengan seorang gadis bernama Hayati. Cinta mereka tidak mendapat restu keluarga Hayati. Pinangan Zainudin ditolak. Penolakan tersebut berawal dari persoalan adat istiadat yang telah turun-temurun dijalankan oleh masyarakat suku Minangkabau yang menjadi latar dalam cerita tersebut, yakni budaya matrilinear.
Baca selengkapnya...
Emansipasi Wanita dalam Novel "Layar Terkembang" Karya Sutan Takdir Alisyahbana
Emansipasi wanita sangat jelas tergambar dalam novel “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kutipan penggalan novel yang disajikan sebagai data pada hasil penelitian. Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan kegigihan sorang perempuan bernama Tuti dalam memperjuangkan hak-hak perermpuan.
Novel ini memperkenalkan masalah wanita Indonesia yang mulai merangkak pada pemikiran modern. Kaum wanita mulai bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai wanita, berwawasan luas, serta bercita-cita mandiri. Masalah lain yang dipersoalkan dalam novel ini, yaitu masalah kebudayaan barat dan timur, juga termasuk masalah agama. Novel ini menampilkan cinta kasih antara Yusuf, Maria, dan Tuti.
Baca selengkapnya...
Skripsi "Makna Simbol dalam Mantra Bugis Dialek Wajo (Telaah Semiotik Sastra Klasik Lisan Wajo)"
Abdullah. 2010. Makna Simbol dalam Mantra Bugis Dialek Wajo (Telaah Semiotik Sastra Klasik Lisan Bugis). Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar (dibimbing oleh Andi Sukri Syamsuri selaku Pembimbing I dan Munirah, selaku Pembimbing II
Baca selengkapnya...
Cerpen "Hidup di Persimpangan Jalan"
“Etta, pulangmi Nurdin!” Seru adikku ketika melihatku dari arah kejauhan. Kulihat kedua ettaku bergegas keluar dari dalam rumah hendak menyambutku. Ada keceriaan dan kegembiraan yang terpancar dari wajah mereka. Aku juga melihat titik-titik air yang keluar dari mata air air mata etta makkunraiku, tapi aku yakin itu adalah keharuan seorang ibu. Adikku membantuku mengangkat barang-barang yang aku bawa. Aku digiring masuk ke dalam rumah. Semua peristiwa tadi sore masih jelas di ingatanku.
Baca selengkapnya...
Cerita Rakyat "LA WELLE"
Dikisahkan konon kabarnya, di sebuah desa bernama Wajo-wajo hiduplah seorang anak yatim yang masih kecil. Anak itu bernama Lawelle. Ayahnya meninggal karena dibunuh oleh Lamannuke. Sejak saat itu, Lawelle tinggal berdua dengan ibunya. Warga sekitar pun sangat sayang pada Lawelle karena dia termasuk anak yang rajin dan tidak nakal.
Suatu ketika, Lawelle sedang bermain-main dan tiba-tiba menyaksikan sepasang burung memberi makan pada anak-anaknya. Lawelle pun takjub menyaksikan peristiwa yang menurut dia masih asing karena belum pernah dilihat sebelumnya. Hal inilah yang kemudian membuatnya bertanya pada ibunya tentang upaya kedua ekor burung yang memberi makan pada burung-burung yang lain.
Baca selengkapnya...
Cerita Rakyat "LA WELLE"
Disadur oleh: ABDULLAH
Dikisahkan konon kabarnya, di sebuah desa bernama Wajo-wajo hiduplah seorang anak yatim yang masih kecil. Anak itu bernama Lawelle. Ayahnya meninggal karena dibunuh oleh Lamannuke. Sejak saat itu, Lawelle tinggal berdua dengan ibunya. Warga sekitar pun sangat sayang pada Lawelle karena dia termasuk anak yang rajin dan tidak nakal.
Suatu ketika, Lawelle sedang bermain-main dan tiba-tiba menyaksikan sepasang burung memberi makan pada anak-anaknya. Lawelle pun takjub menyaksikan peristiwa yang menurut dia masih asing karena belum pernah dilihat sebelumnya. Hal inilah yang kemudian membuatnya bertanya pada ibunya tentang upaya kedua ekor burung yang memberi makan pada burung-burung yang lain.
Ibunya menjelaskan bahwa kedua burung itu tidak lain ayah dan ibu burung-burung yang lain. Lawelle merasa heran karena selama ini dia tidak pernah merasa mempunyai ayah. Dia pun menanyakan tentang ayahnya. Ibunya menceritakan peristiwa yang dialami oleh ayahnya sehingga akhirnya dibunuh oleh Lamannuke.
Dalam rasa penasaran itulah, Lawelle menanyakan peninggalan ayahnya. Ibunya memberitahukan bahwa ayah Lawelle meninggalkan sebuah benda pusaka yang rencananya akan dibuat menjadi badik namun belum selesai. Benda itu disimpannya baik-baik. Lawelle pun mengambil benda tersebut yang sudah menyerupai sebuah badik namun belum tajam karena belum selesai betul dibuat oleh mendiang ayahnya.
Agar badiknya itu betul-betul jadi, Lawelle menanam jeruk pada lahan perkebunan yang sangat luas. Jeruk itu akan dijadikan sebagai bahan untuk mempertajam badiknya. Alhasil, jeruk itu tumbuh besar dan berbuah banyak. Lawelle menghabiskan semua hasil panen jeruk itu hanya untuk mempertajam badiknya hingga badik itu terlalu tipis seperti daun padi sehingga orang bugis menamakannya tappi maddaung ase, artinya badik yang tipis seperti daun padi. Berita tentang adanya tappi maddaung ase yang dimiliki Lawelle tersebar ke seluruh pelosok Wajo hingga tidak ada orang yang berani melawannya karena bekas luka yang ditorehkan akibat sayatan badik Lawelle tidak dapat diobati dengan penawar luka apapun sehingga orang bugis menamakannya tennarapi pattawe.
Pada suatu hari, Lawelle yang sudah beranjak remaja memohon izin kepada ibunya untuk pergi mencari Lamannuke hendak membalas dendam atas kematian ayahnya. Ibunya pun mengizinkan karena sudah mengandalkan keberanian anaknya. Setiap perkampungan yang dilaluinya, Lawelle selalu bertanya tentang keberadaan Lamannuke. Semua orang yang ditanya pun terkejut melihat seorang remaja yang mencari Lamannuke hendak mengajaknya bertarung, sementara Lamannuke sangat terkenal kehebatannya karena dia memiliki ilmu pattawe (penawar luka). Namun, setelah tahu bahwa remaja yang mencari Lamannuke itu tak lain Lawelle yang memiliki tappi maddaung ase tennarapi pattawe, mereka pun maklum atas keberanian anak itu.
Setelah bertanya dan terus bertanya, akhirnya Lawelle berhasil bertemu dengan Lamannuke. Lawelle menantang Lamannuke berkelahi karena hendak membalas dendam atas kematian ayahnya. Celakanya, Lamannuke terlalu licik. Dia mencari akal agar tidak jadi bertarung dengan Lawelle. Rupanya Lamannuke pun telah mendengar tentang kehebatan Lawelle yang memiliki tappi maddaung ase tennarapi pattawe. Lamannuke memang punya ilmu penawar luka, tapi apalah artinya jika berhadapan dengan Lamannuke yang memiliki badik yang bekas sayatannya tak dapat disembuhkan dengan penawar apapun.
Alhasil, Lamannuke menemukan cara agar dapat menyingkirkan Lawelle. Dia menyangkal kalau dirinya yang telah membunuh ayah Lawelle. Lamannuke justru memfitnah Wa Becce yang dikenal dengan sebutan Bolong Mangngongngona Tana Kute. Orang tersebut adalah seorang ratu yang memerintah di sebuah negeri yang sangat kaya. Ratu tersebut terkenal sakti dan pemberani. Apabila ada kapal yang merapat di pelabuhan negeri tersebut, Wa Becce selalu berkokok seperti ayam dan apabila ada yang menjawabnya, maka mereka akan bertarung. Taruhannya pun tidak tanggung-tanggung. Apabila Wa Becce kalah, maka ia akan menyerahkan tampu kekuasaan di negerinya. Tetapi apabila lawannya kalah, maka ia akan mengambil seluruh isi kapal. Tampaknya taruhan itu memang menguntungkan bagi pemilik kapal karena tidak seimbang nilainya, tetapi tetap saja tidak ada yang berani melawan Wa Becce.
Atas petunjuk Lamannuke, Lawelle pun berangkat mengarungi lautan. Agar pelayarannya itu berjalan lancar, dia bekerja sebagai awak pada salah satu kapal tujuan Tana Kute. Tentu saja tidak ada orang yang tahu maksud Lawelle, karena kalau mereka tahu, mereka tidak akan mengikutkan Lawelle. Semua orang, terutama pemilik kapal, sangat takut pada Wa Becce. Bahkan, tidak ada kapal yang mau membawa ayam karena takut ayam tersebut akan menyahut jika Wa Becce berkokok seperti ayam.
Setelah berlayar cukup lama, akhirnya kapal yang ditumpangi Lawelle pun tiba di Tana Kute. Lawelle tidak sabar lagi menunggu adanya suara kokok ayam dari dermaga. Begitu mendengar suara kokok ayam, tanpa ragu-ragu, Lawelle pun menyahut. Tentu saja tindakan Lawelle itu membuat seisi kapal jadi terkejut dan sangat ketakutan. Pertarungan hebat pun terjadi antara Lawelle dan Wa Becce. Mereka beradu kekuatan dan kesaktian, hingga akhirnya badik Lawelle mengenai kulit Wa Becce. Melihat hal itu, Wa Becce tidak merasa khawatir sedikit pun karena dia memiliki penawar luka.
Namun malang nasib Wa Becce. Rupanya dia tidak tahu kalau bekas sayatan badik Lawelle tidak dapat diobati dengan penawar apapun. Wa Becce gugur dalam pertarungan itu. Wa Becce yang selama ini selalu mengambil milik orang lain, akhirnya harus merelakan kerajaannya untuk dia serahkan kepada Lawelle. Tampu kekuasaan pun beralih pada Lawelle.
Konon, menurut si empunya cerita dan keyakinan masyarakat Wajo, Tana Kute yang dimaksud adalah Kerajaan Kutai yang berada di Kalimantan Timur. Lawelle tinggal memerintah di kerajaan tersebut. Berita tentang kemenangan Lawelle melawan Wa Becce pun tersebar hingga ke Wajo. Banyak orang-orang Wajo yang menyusul dan menetap di negeri tersebut dan beranak-cucu hingga sekarang.
Dikisahkan konon kabarnya, di sebuah desa bernama Wajo-wajo hiduplah seorang anak yatim yang masih kecil. Anak itu bernama Lawelle. Ayahnya meninggal karena dibunuh oleh Lamannuke. Sejak saat itu, Lawelle tinggal berdua dengan ibunya. Warga sekitar pun sangat sayang pada Lawelle karena dia termasuk anak yang rajin dan tidak nakal.
Suatu ketika, Lawelle sedang bermain-main dan tiba-tiba menyaksikan sepasang burung memberi makan pada anak-anaknya. Lawelle pun takjub menyaksikan peristiwa yang menurut dia masih asing karena belum pernah dilihat sebelumnya. Hal inilah yang kemudian membuatnya bertanya pada ibunya tentang upaya kedua ekor burung yang memberi makan pada burung-burung yang lain.
Ibunya menjelaskan bahwa kedua burung itu tidak lain ayah dan ibu burung-burung yang lain. Lawelle merasa heran karena selama ini dia tidak pernah merasa mempunyai ayah. Dia pun menanyakan tentang ayahnya. Ibunya menceritakan peristiwa yang dialami oleh ayahnya sehingga akhirnya dibunuh oleh Lamannuke.
Dalam rasa penasaran itulah, Lawelle menanyakan peninggalan ayahnya. Ibunya memberitahukan bahwa ayah Lawelle meninggalkan sebuah benda pusaka yang rencananya akan dibuat menjadi badik namun belum selesai. Benda itu disimpannya baik-baik. Lawelle pun mengambil benda tersebut yang sudah menyerupai sebuah badik namun belum tajam karena belum selesai betul dibuat oleh mendiang ayahnya.
Agar badiknya itu betul-betul jadi, Lawelle menanam jeruk pada lahan perkebunan yang sangat luas. Jeruk itu akan dijadikan sebagai bahan untuk mempertajam badiknya. Alhasil, jeruk itu tumbuh besar dan berbuah banyak. Lawelle menghabiskan semua hasil panen jeruk itu hanya untuk mempertajam badiknya hingga badik itu terlalu tipis seperti daun padi sehingga orang bugis menamakannya tappi maddaung ase, artinya badik yang tipis seperti daun padi. Berita tentang adanya tappi maddaung ase yang dimiliki Lawelle tersebar ke seluruh pelosok Wajo hingga tidak ada orang yang berani melawannya karena bekas luka yang ditorehkan akibat sayatan badik Lawelle tidak dapat diobati dengan penawar luka apapun sehingga orang bugis menamakannya tennarapi pattawe.
Pada suatu hari, Lawelle yang sudah beranjak remaja memohon izin kepada ibunya untuk pergi mencari Lamannuke hendak membalas dendam atas kematian ayahnya. Ibunya pun mengizinkan karena sudah mengandalkan keberanian anaknya. Setiap perkampungan yang dilaluinya, Lawelle selalu bertanya tentang keberadaan Lamannuke. Semua orang yang ditanya pun terkejut melihat seorang remaja yang mencari Lamannuke hendak mengajaknya bertarung, sementara Lamannuke sangat terkenal kehebatannya karena dia memiliki ilmu pattawe (penawar luka). Namun, setelah tahu bahwa remaja yang mencari Lamannuke itu tak lain Lawelle yang memiliki tappi maddaung ase tennarapi pattawe, mereka pun maklum atas keberanian anak itu.
Setelah bertanya dan terus bertanya, akhirnya Lawelle berhasil bertemu dengan Lamannuke. Lawelle menantang Lamannuke berkelahi karena hendak membalas dendam atas kematian ayahnya. Celakanya, Lamannuke terlalu licik. Dia mencari akal agar tidak jadi bertarung dengan Lawelle. Rupanya Lamannuke pun telah mendengar tentang kehebatan Lawelle yang memiliki tappi maddaung ase tennarapi pattawe. Lamannuke memang punya ilmu penawar luka, tapi apalah artinya jika berhadapan dengan Lamannuke yang memiliki badik yang bekas sayatannya tak dapat disembuhkan dengan penawar apapun.
Alhasil, Lamannuke menemukan cara agar dapat menyingkirkan Lawelle. Dia menyangkal kalau dirinya yang telah membunuh ayah Lawelle. Lamannuke justru memfitnah Wa Becce yang dikenal dengan sebutan Bolong Mangngongngona Tana Kute. Orang tersebut adalah seorang ratu yang memerintah di sebuah negeri yang sangat kaya. Ratu tersebut terkenal sakti dan pemberani. Apabila ada kapal yang merapat di pelabuhan negeri tersebut, Wa Becce selalu berkokok seperti ayam dan apabila ada yang menjawabnya, maka mereka akan bertarung. Taruhannya pun tidak tanggung-tanggung. Apabila Wa Becce kalah, maka ia akan menyerahkan tampu kekuasaan di negerinya. Tetapi apabila lawannya kalah, maka ia akan mengambil seluruh isi kapal. Tampaknya taruhan itu memang menguntungkan bagi pemilik kapal karena tidak seimbang nilainya, tetapi tetap saja tidak ada yang berani melawan Wa Becce.
Atas petunjuk Lamannuke, Lawelle pun berangkat mengarungi lautan. Agar pelayarannya itu berjalan lancar, dia bekerja sebagai awak pada salah satu kapal tujuan Tana Kute. Tentu saja tidak ada orang yang tahu maksud Lawelle, karena kalau mereka tahu, mereka tidak akan mengikutkan Lawelle. Semua orang, terutama pemilik kapal, sangat takut pada Wa Becce. Bahkan, tidak ada kapal yang mau membawa ayam karena takut ayam tersebut akan menyahut jika Wa Becce berkokok seperti ayam.
Setelah berlayar cukup lama, akhirnya kapal yang ditumpangi Lawelle pun tiba di Tana Kute. Lawelle tidak sabar lagi menunggu adanya suara kokok ayam dari dermaga. Begitu mendengar suara kokok ayam, tanpa ragu-ragu, Lawelle pun menyahut. Tentu saja tindakan Lawelle itu membuat seisi kapal jadi terkejut dan sangat ketakutan. Pertarungan hebat pun terjadi antara Lawelle dan Wa Becce. Mereka beradu kekuatan dan kesaktian, hingga akhirnya badik Lawelle mengenai kulit Wa Becce. Melihat hal itu, Wa Becce tidak merasa khawatir sedikit pun karena dia memiliki penawar luka.
Namun malang nasib Wa Becce. Rupanya dia tidak tahu kalau bekas sayatan badik Lawelle tidak dapat diobati dengan penawar apapun. Wa Becce gugur dalam pertarungan itu. Wa Becce yang selama ini selalu mengambil milik orang lain, akhirnya harus merelakan kerajaannya untuk dia serahkan kepada Lawelle. Tampu kekuasaan pun beralih pada Lawelle.
Konon, menurut si empunya cerita dan keyakinan masyarakat Wajo, Tana Kute yang dimaksud adalah Kerajaan Kutai yang berada di Kalimantan Timur. Lawelle tinggal memerintah di kerajaan tersebut. Berita tentang kemenangan Lawelle melawan Wa Becce pun tersebar hingga ke Wajo. Banyak orang-orang Wajo yang menyusul dan menetap di negeri tersebut dan beranak-cucu hingga sekarang.
Menanti Aksi Tokoh Perdamaian Dunia
Abdullah
Pemilu presiden telah berlalu dan presiden terpilih pun sudah menjabat selama hampir satu tahun. Tentu saja presiden terpilih adalah pilihan rakyat secara murni karena dipilih secara langsung, bukan melalui perwakilan di parlemen. Namun sepertinya rakyat tidak puas dengan pilihannya. Ini dibuktikan dengan maraknya aksi unjuk rasa, bahkan tidak jarang menuntut presiden mundur dari jabatannya.
Sejak dilantinya presiden dan wakilnya, sudah banyak digelar aksi unjuk rasa, mulai dari kasus Bank Century, kenaikan tarif dasar listrik, sampai hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Kasus terakhir inilah yang menyebabkan popularitas presiden turun menurut beberapa lembaga survey yang telah merilis temuannya akhir-akhir ini. Berbagai komentar rakyat bermunculan tentang presiden yang dianggap tidak tegas dalam menyikapi persoalan dengan Malaysia. Bahkan tidak sedikit rakyat yang menuding presiden penakut karena tidak berani menghadapi negara-negara lain.
Mendengar beberapa komentar dari rakyat, tentunya kita heran dan tercengang karena ini berbeda dengan sosok presiden yang kita kenal sebelumnya. Sang presiden sebagai ikon negara telah tercatat sebagai salah satu orang yang berpengaruh di dunia menurut salah satu majalah internasional. Lebih mengherankan lagi rakyat yang menuntut presiden mundur karena dianggap penakut, padahal kebanyakan mereka memilih presiden dulu karena dianggap berwibawa. Jika presiden kita berwibawa, tentunya negara lain tidak akan merampas kedaulatan negara kita.
Tak ada yang patut dipersalahkan dalam kasus ini terkait sikap presiden yang memilih berdiplomasi daripada menempuh jalur perang. Sikap presiden tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Masih banyak saudara kita bekerja di sana sebagai TKI. Jika jalur perang dipilih, tentunya banyak korban dari pihak kita, termasuk dalam hal pekerjaan. Rakyat pun tidak mau kalah karena selalu bercermin pada sikap presiden yang menyerukan mengganyak Malaysia, seperti yang sering ditayangkan di layar kaca.
Sebenarnya, pangkal persoalan yang kita hadapi sangat jelas. Negara kita butuh tokoh yang mampu meredam dan mendamaikan kedua belah pihak. Namun sampai detik ini, baik rakyat maupun pemerintah, tampaknya belum ada yang menemukan sosok tokoh perdamaian. Padahal, negara lain pernah menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa bidang perdamaian pada salah seorang mantan wakil presiden kita. Tentu saja gelar itu bukan sekadar pemberian, melainkan penghargaan pada orang yang dianggap memiliki kapasitas dalam hal perdamaian dunia yang cukup disegani.
Secara historis, mantan wakil presiden kita memiliki hubungan kekerabatan dengan Perdana Menteri Malaysia yang menjadi ikon negara tersebut. Tak bisa dipungkiri bahwa keduanya adalah perantau yang mengadu nasib di negeri orang. Keduanya diikat dengan tali persaudaraan suku Bugis-Makassar. Berikut kutipan penggalan puisi yang ditulis oleh Udhin Palisuri, seorang sastrawan dan budayawan Sulawesi Selatan.
Yang amat terhormat
Datuk Najib
Timbalan jadi perdana menteri
Leluhur dari Gowa
Istri orang Padang
Yusuf Kalla
Wakil presiden
Leluhur dari Bugis
Istri orang Padang
(Dibacakan pada Pembukaan Festival Budaya Serumpun Melayu tahun 2009 di Makassar)

Pertalian ini tentunya dapat dijadikan sebagai suatu referensi untuk mempertemukan keduanya dalam satu meja membicarakan persoalan kedua negara yang akhir-akhir ini bersitegang. Dalam raga keduanya, tentu masih mengalir darah Bugis-Makassar dengan keteguhan hatinya memegang prinsip “Sebenci-bencinya pada saudara sekampung, jika bertemu di perantauan, akan berdamai jua.” Kini kita tinggal menanti aksi tokoh perdamaian dunia yang telah mewakafkan hidupnya untuk kemanusiaan.
Pemilu presiden telah berlalu dan presiden terpilih pun sudah menjabat selama hampir satu tahun. Tentu saja presiden terpilih adalah pilihan rakyat secara murni karena dipilih secara langsung, bukan melalui perwakilan di parlemen. Namun sepertinya rakyat tidak puas dengan pilihannya. Ini dibuktikan dengan maraknya aksi unjuk rasa, bahkan tidak jarang menuntut presiden mundur dari jabatannya.
Sejak dilantinya presiden dan wakilnya, sudah banyak digelar aksi unjuk rasa, mulai dari kasus Bank Century, kenaikan tarif dasar listrik, sampai hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Kasus terakhir inilah yang menyebabkan popularitas presiden turun menurut beberapa lembaga survey yang telah merilis temuannya akhir-akhir ini. Berbagai komentar rakyat bermunculan tentang presiden yang dianggap tidak tegas dalam menyikapi persoalan dengan Malaysia. Bahkan tidak sedikit rakyat yang menuding presiden penakut karena tidak berani menghadapi negara-negara lain.
Mendengar beberapa komentar dari rakyat, tentunya kita heran dan tercengang karena ini berbeda dengan sosok presiden yang kita kenal sebelumnya. Sang presiden sebagai ikon negara telah tercatat sebagai salah satu orang yang berpengaruh di dunia menurut salah satu majalah internasional. Lebih mengherankan lagi rakyat yang menuntut presiden mundur karena dianggap penakut, padahal kebanyakan mereka memilih presiden dulu karena dianggap berwibawa. Jika presiden kita berwibawa, tentunya negara lain tidak akan merampas kedaulatan negara kita.
Tak ada yang patut dipersalahkan dalam kasus ini terkait sikap presiden yang memilih berdiplomasi daripada menempuh jalur perang. Sikap presiden tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Masih banyak saudara kita bekerja di sana sebagai TKI. Jika jalur perang dipilih, tentunya banyak korban dari pihak kita, termasuk dalam hal pekerjaan. Rakyat pun tidak mau kalah karena selalu bercermin pada sikap presiden yang menyerukan mengganyak Malaysia, seperti yang sering ditayangkan di layar kaca.
Sebenarnya, pangkal persoalan yang kita hadapi sangat jelas. Negara kita butuh tokoh yang mampu meredam dan mendamaikan kedua belah pihak. Namun sampai detik ini, baik rakyat maupun pemerintah, tampaknya belum ada yang menemukan sosok tokoh perdamaian. Padahal, negara lain pernah menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa bidang perdamaian pada salah seorang mantan wakil presiden kita. Tentu saja gelar itu bukan sekadar pemberian, melainkan penghargaan pada orang yang dianggap memiliki kapasitas dalam hal perdamaian dunia yang cukup disegani.
Secara historis, mantan wakil presiden kita memiliki hubungan kekerabatan dengan Perdana Menteri Malaysia yang menjadi ikon negara tersebut. Tak bisa dipungkiri bahwa keduanya adalah perantau yang mengadu nasib di negeri orang. Keduanya diikat dengan tali persaudaraan suku Bugis-Makassar. Berikut kutipan penggalan puisi yang ditulis oleh Udhin Palisuri, seorang sastrawan dan budayawan Sulawesi Selatan.
Yang amat terhormat
Datuk Najib
Timbalan jadi perdana menteri
Leluhur dari Gowa
Istri orang Padang
Yusuf Kalla
Wakil presiden
Leluhur dari Bugis
Istri orang Padang
(Dibacakan pada Pembukaan Festival Budaya Serumpun Melayu tahun 2009 di Makassar)

Pertalian ini tentunya dapat dijadikan sebagai suatu referensi untuk mempertemukan keduanya dalam satu meja membicarakan persoalan kedua negara yang akhir-akhir ini bersitegang. Dalam raga keduanya, tentu masih mengalir darah Bugis-Makassar dengan keteguhan hatinya memegang prinsip “Sebenci-bencinya pada saudara sekampung, jika bertemu di perantauan, akan berdamai jua.” Kini kita tinggal menanti aksi tokoh perdamaian dunia yang telah mewakafkan hidupnya untuk kemanusiaan.
Sabtu, 14 Agustus 2010
Kompleksitas Pembelajaran Seni Teater Menjawab Problematika Pembelajaran Seni Budaya

A. Hakikat Pembelajaran Seni Budaya
Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya terdapat dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan. Dalam mata pelajaran Seni Budaya, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.
Mata pelajaran Seni Budaya diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi. Mata pelajran Seni Budaya memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional.
Bidang seni rupa, musik, tari, dan teater memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam mata pelajaran Seni Budaya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.
B. Problematika Pembelajaran Seni Budaya
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang kini tengah diterapkan di sekolah sebagai satuan pendidikan telah menyita banyak waktu para guru untuk menyusun program pembelajaran. Setiap awal tahun pelajaran, para guru merencanakan program pembelajaran untuk satu tahun ke depan dengan memperhatikan masalah-masalah yang muncul pada proses pembelajaran tahun sebelumnya. Proses inilah yang kadang memancing guru melakukan penelitian tindakan kelas dengan harapan dapat memperbaiki kualitas pembelajaran yang diterapkannya. Namun, tidak sedikit juga guru yang kurang memperhatikan fenomena tersebut.
Khusus mata pelajaran Seni Budaya, salah satu problematika yang dihadapi guru mata pelajaran adalah kompleksitas materi yang diamanatkan dalam Permen Diknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Permen ini memuat materi berupa standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus diurai oleh guru mata pelajaran menjadi indikator-indikator pencapaian didasarkan pada potensi sekolah sebagai satuan pendidikan. Pada indikator itulah guru dan siswa bergelut untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai standar isi yang ditetapkan pemerintah.
Kompleksitas mata pelajaran Seni Budaya meliputi seni teater, seni musik, seni tari, dan seni teater. Keempat bidang seni inilah yang akan diajarkan kepada siswa dengan alokasi waktu yang sangat singkat untuk dapat mencapai ketuntasan minimal hasil belajar. Dalam alokasi waktu per semester, guru hanya mampu menuntaskan satu substansi masalah. Itu pun hanya satu bidang seni yang dapat diajarkan jika mengacu pada kurikulum sesuai dengan standar isi yang ditetapkan pemerintah.
Sebenarnya guru tidak perlu merasa repot dan merepotkan diri dengan persoalan tersebut karena guru tidak dituntut untuk mengajarkan semua bidang seni dalam waktu yang bersamaan (semester yang sama). Pun guru hanya memilih salah satu bidang seni sesuai dengan latar belakang pendidikannya untuk diajarkan kepada siswa. Namun, kondisi siswa yang heterogen dengan potensi bawaan lahir yang berbeda-beda tidaklah sesuai dengan harapan guru, sehingga harus berupaya memenuhi keinginan siswa.
Problematika inilah yang kerap membayang-bayangi para guru mata pelajaran Seni Budaya. Bahkan tidak jarang orang tua siswa melancarkan protes jika anaknya dinyatakan tidak melulusi mata pelajaran Seni Budaya, karena anaknya pernah menjuarai lomba lukis atau lomba lagu solo. Betapa tidak, gurunya mengajarkan Seni Tari, padahal siswa yang bersangkutan tidak mampu menari seperti yang diinginkan gurunya. Ada pula siswa yang pernah menjuarai lomba tari atau menjadi sutradara terbaik dalam sebuah festival teater, tapi dinyatakan tidak lulus pada mata pelajaran Seni Budaya karena gurunya mengajarkan Seni Rupa. Tentu saja siswa tersebut tidak mampu memenuhi standar ketuntasan minimal yang telah ditetapkan.
C. Kompeksitas Unsur Pertunjukan Teater
Teater merupakan suatu bentuk seni pertunjukan. Sebagai seni pertunjukan, teater termasuk bidang seni yang sangat kompleks karena memadu bidang seni yang lain maupun keterampilan hidup (life skill) untuk menunjang keberhasilan dalam pertunjukan. Hal itulah yang menjadi unsur-unsur dalam membangun sebuah pertunjukan teater.
Pertunjukan teater akan terasa hambar jika tidak didukung dengan unsur-unsur pertunjukan, seperti seni musik sebagai ilustrasi, seni rupa sebagai penataan panggung/properti, seni tari untuk koreografi pada adegan-adegan tertentu, tata rias, busana, maupun cahaya. Semua unsur-unsur tersebut sangat membantu dalam membangun karakter pelaku dan suasana cerita dalam pertunjukan. Kehadiran unsur-unsur itu pun akan menambah nilai estetis sebuah karya seni teater. Berikut akan diuraikan beberapa unsur dalam pertunjukan teater.
1. Ide Cerita/Skenario
Untuk dapat mementaskan teater, diperlukan skenario atau ide cerita yang menjadi materi pertunjukan. Dalam alur cerita tersebut, disuguhkan konflik, baik konflik fisik maupun konflik batin yang dialami oleh pelaku dalam cerita. Seorang penulis skenario atau orang yang melahirkan ide cerita haruslah peka terhadap fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat beragama, berbangsa, dan bernegara.
Dalam membuat skenario, dibutuhkan keterampilan dalam bidang seni sastra. Seperti kita ketahui bahwa bahan baku sebuah pertunjukan teater adalah naskah drama yang merupakan bagian dari seni sastra. Inilah raga atau fisik teater yang harus mendapat roh agar dapat kelihatan hidup di atas panggung.
2. Sutradara
Sutradara merupakan pemimpin dalam sebuah pertunjukan teater. Sutradara akan menjadi top leader pada semua stage management. Untuk itu, seorang sutradara harus memiliki jiwa kepemimpinan agar semua stage management dapat menerima ide dan keinginan sutradara. Baik atau buruknya suatu pertunjukan teater sangat bergantung pada kompetensi sutradara. Sutradaralah yang akan meniupkan roh pada naskah yang berbentuk seni sastra menjadi sebuah pertunjukan teater yang menarik. Ide cerita atau skenario terlebih dahulu harus dapat dipahami oleh sutradara, kemudian ide cerita/skenario tersebut diramu sesuai dengan keinginannya.
Dalam menjalankan tugasnya, sutradara bisa dibantu oleh seorang asisten dan pencatat adegan. Sutradara dapat pula didampingi oleh seorang koreografer jika dibutuhkan. Tugas seorang koreografer adalah menyajikan koreo pada adegan-adegan tertentu yang sulit digambarkan dengan adu aksi para pemain di panggung, seperti perkelahian, pembunuhan, atau pemerkosaan. Koreografi yang disajikan harus menarik dan dapat diterima atau dipahami oleh penonton. Di sinilah dibutuhkan kemampuan dalam bidang seni tari.
3.Pemain
Dalam pertunjukan teater, pemain memerankan lakon berdasarkan tokoh cerita dengan karakter tertentu. Setiap tokoh cerita mempunyai peranan dan watak yang berbeda. Seorang pemain dituntut untuk mampu memerankan tokoh cerita. Keahlian pemain dapat menghadirkan sosok tokoh yang diperankan seperti nyata, baik tingkah laku, dialog, maupun jiwanya. Selain bermain secara individu, pemain juga diharuskan dapat bermain secara kelompok. Artinya, di atas panggung seorang pemain tidak bermain sendiri, ada tokoh cerita lain yang harus bekerja sama dalam menghadirkan permainan yang baik. Kekompakan antarpemain sangat menentukan keberhasilan sebuah pertunjukan.4. Tata Panggung/Properti
Dalam pertunjukan teater, penggambaran latar tempat harus jelas. Misalnya, adegan menggambarkan suasana di terminal, maka tidak hanya pemain yang mengantar penonton mengetahui atau menafsirkan latar tempat dalam cerita, tetapi yang sangat mendukung adalah properti atau penataan panggung. Tanpa dimunculkan dalam dialog pemain, penonton pun dapat mengetahui latarnya. Di sinilah kemampuan stage management dalam bidang seni rupa sangat dibutuhkan5. Tata Musik
Musik berfungsi untuk membangun suasana tertentu, seperti tuntutan peristiwa dalam pertunjukan teater. Musik yang kurang baik dan kurang tepat dapat merusak suasana pertunjukan. Musik dalam pertunjukan teater bukan hanya bunyi yang dihasilkan oleh alat musik, tetapi dapat juga berupa bunyi-bunyian yang dikeluarkan oleh alat ucap manusia atau rekaman bunyi yang dapat menggambarkan suatu peristiwa.
Untuk menggambarkan suasana pagi, penata musik dapat menggunakan rekaman suara kicau burung. Untuk menggambarkan suasana pantai, penata musik dapat menggunakan rekaman suara ombak dan burung camar. Dalam pada itu, musik berfungsi menggambarkan latar waktu dan tempat dalam cerita.
6. Tata Rias/Busana
Tata rias adalah riasan wajah pemain maupun anggota badan yang lain dengan tujuan untuk membantu pemain menghadirkan karakter tokoh cerita. Seorang pemain yang masih relatif muda, dapat tampil layaknya orang tua karena dukungan tata rias. Tentu saja tata rias ini erat kaitannya dengan tata busana. Busana pentas merupakan pakaian penunjang karakter pemain dalam menghadirkan sosok tokoh cerita. Selain itu, sinergi antara tata rias dan tata busana juga dapat menggambarkan sebuah kurun waktu peristiwa dan artistik pertunjukan. Di sinilah dibutuhkan keterampilan stage management dalam bidang fashion (make up dan costume design) yang sesuai dengan latar cerita.
7. Tata Cahaya
Selain tata musik dan tata rias/busana, dibutuhkan juga tata cahaya untuk menggambarkan latar waktu dan suasana. Penata cahaya dapat menggambarkan waktu senja dengan menggunakan perpaduan cahaya berwarna merah dan kuning. Penata cahaya pun dapat menggambarkan suasana mencekam dengan memainkan beberapa warna cahaya secara bergantian. Untuk menghadirkan penggambaran latar waktu dan suasana yang diinginkan sesuai dengan tuntutan cerita, sebaiknya tidak ada cahaya yang terlihat dalam ruang
pertunjukan selain cahaya lampu yang mengarah ke arena pertunjukan (panggung).
Penataan cahaya tidak lepas dari kemampuan seni rupa dan keterampilan dalam bidang elektro yang harus dimiliki stage management. Penata cahaya harus mengetahui konsep penggabungan warna untuk menciptakan warna-warna tertentu. Hal ini akan sangat membatu dalam mewujudkan nuansa dan membangun suasana berdasarkan alur cerita.
D. Teater Mensinergikan Berbagai Bidang Seni
Dari pemaparan tentang kompleksitas unsur pertunjukan teater, dapat disimpulkan bahwa seni teater merupakan induk dari semua bidang seni. Sebagai induk, teater dapat mensinergikan semua bidang seni, seperti seni musik, seni tari, dan seni rupa. Selain itu, unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah seni sastra, kepemimpinan, bahkan kemampuan dalam bidang elektro. Kompleksitas seni teater inilah yang diharapkan dapat mensinergikan berbagai bidang keilmuan untuk mengasah dan mengembangkan kreativitas siswa, baik dalam bidang seni maupun dalam bidang yang lain, seperti kesusastraan dan kepemimpinan, dan elektro.
Khusus dalam pembelajaran Seni Budaya, guru dapat memilih seni teater sebagai jawaban atas problematika pembelajaran Seni Budaya yang dialami selama ini. Guru tidak perlu lagi menekankan pada siswa untuk dapat menguasai bidang keilmuan yang diinginkan guru, melainkan memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih peranan yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Setiap manusia lahir dengan potensi bawaan yang dimiliki. Inilah yang harus dijajaki dalam diri siswa. Guru hanya tampil sebagai fasilitator untuk menemukan potensi tersebut. Siswa yang memiliki keterampilan menulis diberi kesempatan menulis skenario. Siswa yang memiliki kemampuan memimpin dan mengarahkan diberi kesempatan menjadi sutradara. Siswa yang memiliki kemampuan berakting diberi kesempatan menjadi pemain. Siswa yang memiliki kemampuan menari diberi peran dalam suatu adegan tertentu yang memerlukan koreo. Siswa yang memiliki kemampuan seni rupa diberi tugas sebagai penata panggung/properti. Siswa yang memiliki kemampuan seni musik diberi tugas sebagai penata musik. Siswa yang memiliki keterampilan dalam bidang fashion diberi tugas sebagai penata rias/busana. Siswa yang memiliki kemampuan dalam bidang seni rupa dan elektro diberi tugas sebagai penata cahaya. Dengan demikian, seluruh kepentingan, baik dari guru maupun siswa, dapat terakomodasi dengan baik.
Selasa, 29 Desember 2009
Ambalan Hasanuddin-Kartini Tingkatkan Kuantitas dan Kualitas
Ambalan Hasanuddin-Kartini yang berpangkalan di SMA Negeri 1 Sengkang dengan nomor Gudep 14.083-14.086 kembali mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pembinaan dan pengembangan organisasi baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk Persami pada tanggal 26 s.d. 27 Desember 2009 ini merangkaikan beberapa agenda kegiatan, di antaranya Penerimaan Tamu Ambalan, Upacara Unggun Api, malam kanyita, Sidang Dewan Kehormatan Kenaikan Tingkat dari Penegak Bantara ke Penegak Laksana, dan kegiatan yang tidak biasanya dilaksanakan selama ini yakni Pertemuan Alumni Ambalan Has-Kar.
Dalam upacara Penerimaan Tamu Ambalan, Wawan Septiawan selaku Ketua Sangga Kerja memperhadapkan 84 calon peserta kepada Ka Mabigus yang diwakili oleh Drs. H. Abdul Gaffar selaku Pembina Upacara. Ke-84 calon peserta tersebut terdiri dari 29 putra dan 55 putri. Dalam prosesi upacara tersebut, Pembina Upacara menanyakan kepada Pengurus Dewan Ambalan tentang kesediaan para pengurus menerima dan membimbing calon peserta yang diiyakan oleh semua pengurus.
Dalam amanatnya, Pembina Upacara berpesan kepada seluruh pengurus agar dapat membimbing dan mengarahkan calon peserta berdasarkan sistem dan tujuan pendidikan kepramukaan. Selain itu, Pembina Upacara juga berpesan kepada peserta agar dapat mengikuti kegiatan pelatihan dengan tekun dan disiplin. Pembina Upacara selanjutnya menutup amanatnya dengan pernyataan menerima tamu ambalan yang selanjutnya diserahkan kembali kepada Dewan Ambalan untuk mendapatkan pembinaan.
Setelah prosesi upacara dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan pada malam hari dengan kegiatan Upacara Unggun Api dilanjutkan dengan malam kanyita. Keakraban terlihat kala setiap peseta yang mewakili regu masing-masing menampilkan kreativitas mereka. Tidak hanya itu, pemandu acara pun tidak segan-segan mengundang panitia, pembina, bahkan para alumni yang hadir untuk tampil bernyanyi atau membacakan puisi.
Selepas acara malam kanyita, pembina menggelar Sidang Dewan Kehormatan (SDK) Kenaikan Tingkat dari Penegak Bantara ke Penegak Laksana yang dipimpin oleh Kak Abdullah (Pembina Satuan Penegak Ambalan Hasanuddin). Sidang yang dilaksanakan berjalan alot diselingi humor dan ketegangan yang tampak di wajah peserta sidang. SDK yang digelar ini memperhadapkan 9 (sembilan) calon Penegak Laksana, di antaranya Muhammad Jumardan, Marsul Musyawwir Mardis, Muhammad Ikram, Syafrizal, Nurdin Afandi, Dian Eka Sari, Wahyunaningsih, Irma Suriyani, dan Kasmiriawanti.
Proses persidangan diawali dengan arahan yang disampaikan oleh Kak Zainuddin (Ketua Lemdikacab) yang mewakili Ketua Kwarcab Wajo. Sidang juga dihadiri oleh beberapa unsur Kwarcab lainnya, di antaranya Kak Yusri, Kak Gusti, dan Kak Nawawi. Selain itu, hadir pula unsur-unsur DKC, di antaranya Kak Yunus dan Kak Musfain. Di antara undangan, tampak pula unsur-unsur Mabigus, guru Pendais, wali kelas, dan orang tua peserta didik calon Penegak Laksana.
Persidangan yang sempat diskorsing sebanyak 3 (tiga) kali ini ditutup tepat pukul 04.00 dini hari dengan keputusan ke-9 peserta dinyatakan lulus dan berhak menyandang tanda jabatan Penegak Laksana. Para peserta dilantik usai salat Subuh oleh Kak Yusri mewakili Ka Mabigus. Dalam amanat pelantikan, pembina berpesan kepada para peserta agar dapat menjadi contoh teladan bagi Pramuka yang lain, khususnya dalam lingkup Ambalan Hasanuddin-Kartini.
Menyambut pagi yang indah nan cerah, segenap peserta Persami, baik pengurus, tamu ambalan, maupun pembina menyegarkan otot-otot dengan mengikuti Senam Pramuka. Walau sedikit lucu karena tidak menghafal gerakan-gerakan senam, namun semua peserta merasa senang dan dapat menikmati setiap gerakan hingga akhir senam.
Setelah mengadakan senam, peserta Persami secara resmi dilepas oleh Kak Abdullah. Dalam apel pelepasan, pembina mengingatkan kepada segenap peserta, khususnya para tamu ambalan agar tetap bersemangat mengikuti setiap kegiatan kepramukaan. Pembina menyatakan bahwa kegiatan penerimaan tamu ambalan yang telah dilaksanakan merupakan langkah awal untuk dapat bergabung dengan Ambalan Hasanuddin-Kartini. Hal ini masih memerlukan tindak lanjut dan akan terus dipantau pada proses pelatihan yang akan dimulai pada bulan Januari 2010. Dalam apel itu pun, pembina memberikan motivasi kepada para pengurus ambalan agar dapat meraih tanda jabatan Penegak Laksana. Demikian pula kepada ke-9 Penegak Laksana yang baru dilantik, pembina juga memberikan motivasi agar dapat meraih Penegak Garuda sebelum menyelesaikan pendidikan di SMA.
Dalam upacara Penerimaan Tamu Ambalan, Wawan Septiawan selaku Ketua Sangga Kerja memperhadapkan 84 calon peserta kepada Ka Mabigus yang diwakili oleh Drs. H. Abdul Gaffar selaku Pembina Upacara. Ke-84 calon peserta tersebut terdiri dari 29 putra dan 55 putri. Dalam prosesi upacara tersebut, Pembina Upacara menanyakan kepada Pengurus Dewan Ambalan tentang kesediaan para pengurus menerima dan membimbing calon peserta yang diiyakan oleh semua pengurus.
Dalam amanatnya, Pembina Upacara berpesan kepada seluruh pengurus agar dapat membimbing dan mengarahkan calon peserta berdasarkan sistem dan tujuan pendidikan kepramukaan. Selain itu, Pembina Upacara juga berpesan kepada peserta agar dapat mengikuti kegiatan pelatihan dengan tekun dan disiplin. Pembina Upacara selanjutnya menutup amanatnya dengan pernyataan menerima tamu ambalan yang selanjutnya diserahkan kembali kepada Dewan Ambalan untuk mendapatkan pembinaan.
Setelah prosesi upacara dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan pada malam hari dengan kegiatan Upacara Unggun Api dilanjutkan dengan malam kanyita. Keakraban terlihat kala setiap peseta yang mewakili regu masing-masing menampilkan kreativitas mereka. Tidak hanya itu, pemandu acara pun tidak segan-segan mengundang panitia, pembina, bahkan para alumni yang hadir untuk tampil bernyanyi atau membacakan puisi.
Selepas acara malam kanyita, pembina menggelar Sidang Dewan Kehormatan (SDK) Kenaikan Tingkat dari Penegak Bantara ke Penegak Laksana yang dipimpin oleh Kak Abdullah (Pembina Satuan Penegak Ambalan Hasanuddin). Sidang yang dilaksanakan berjalan alot diselingi humor dan ketegangan yang tampak di wajah peserta sidang. SDK yang digelar ini memperhadapkan 9 (sembilan) calon Penegak Laksana, di antaranya Muhammad Jumardan, Marsul Musyawwir Mardis, Muhammad Ikram, Syafrizal, Nurdin Afandi, Dian Eka Sari, Wahyunaningsih, Irma Suriyani, dan Kasmiriawanti.
Proses persidangan diawali dengan arahan yang disampaikan oleh Kak Zainuddin (Ketua Lemdikacab) yang mewakili Ketua Kwarcab Wajo. Sidang juga dihadiri oleh beberapa unsur Kwarcab lainnya, di antaranya Kak Yusri, Kak Gusti, dan Kak Nawawi. Selain itu, hadir pula unsur-unsur DKC, di antaranya Kak Yunus dan Kak Musfain. Di antara undangan, tampak pula unsur-unsur Mabigus, guru Pendais, wali kelas, dan orang tua peserta didik calon Penegak Laksana.
Persidangan yang sempat diskorsing sebanyak 3 (tiga) kali ini ditutup tepat pukul 04.00 dini hari dengan keputusan ke-9 peserta dinyatakan lulus dan berhak menyandang tanda jabatan Penegak Laksana. Para peserta dilantik usai salat Subuh oleh Kak Yusri mewakili Ka Mabigus. Dalam amanat pelantikan, pembina berpesan kepada para peserta agar dapat menjadi contoh teladan bagi Pramuka yang lain, khususnya dalam lingkup Ambalan Hasanuddin-Kartini.
Menyambut pagi yang indah nan cerah, segenap peserta Persami, baik pengurus, tamu ambalan, maupun pembina menyegarkan otot-otot dengan mengikuti Senam Pramuka. Walau sedikit lucu karena tidak menghafal gerakan-gerakan senam, namun semua peserta merasa senang dan dapat menikmati setiap gerakan hingga akhir senam.
Setelah mengadakan senam, peserta Persami secara resmi dilepas oleh Kak Abdullah. Dalam apel pelepasan, pembina mengingatkan kepada segenap peserta, khususnya para tamu ambalan agar tetap bersemangat mengikuti setiap kegiatan kepramukaan. Pembina menyatakan bahwa kegiatan penerimaan tamu ambalan yang telah dilaksanakan merupakan langkah awal untuk dapat bergabung dengan Ambalan Hasanuddin-Kartini. Hal ini masih memerlukan tindak lanjut dan akan terus dipantau pada proses pelatihan yang akan dimulai pada bulan Januari 2010. Dalam apel itu pun, pembina memberikan motivasi kepada para pengurus ambalan agar dapat meraih tanda jabatan Penegak Laksana. Demikian pula kepada ke-9 Penegak Laksana yang baru dilantik, pembina juga memberikan motivasi agar dapat meraih Penegak Garuda sebelum menyelesaikan pendidikan di SMA.
Langganan:
Postingan (Atom)